Welcome to my world

Segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China tertuang di sini.

Minggu, 23 Mei 2010

The Painter Lady (6): Kuil Awan Terang


Pahatan-pahatan naga masih melingkar di kedua pilar yang menyangga atap gerbang rumah keluarga Zheng.

Begitu pula dengan kedua patung singa batu duduk serta sepasang lukisan dewa penjaga gerbang. Semuanya masih berada di tempatnya – sama seperti ketika Ziwei pertama kali datang ke rumah itu sebagai calon mempelai Zheng Yun.

Ziwei ingat: naga-naga, kedua singa batu beserta lukisan dewa-dewa itu dulu begitu angker baginya. Kini, semuanya tampak lebih menyeramkan. Dikuasai perasaan bersalah, Ziwei merasa benda-benda mati itu bergerak. Cengkeraman naga-naga terlepas dari pilar dan mencakar wajahnya. Taring-taring singa batu yang semula bisu, menghunjam tulang bahunya. Dan sepasang dewa penjaga pintu itu menusuk senjata mereka ke dada Ziwei – tepat ke jantungnya!

Kaki Ziwei gemetaran melewati gerbang. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia berjuang keras untuk menghadapi orang-orang yang telah menunggunya di balik gerbang.

Ketika memasuki halaman rumah Zheng, Ziwei berharap akan lebih baik jika tanah yang dipijaknya terbelah lalu menelannya. Hampir seluruh anggota keluarga Zheng, terutama yang tidak ingin ditemui Ziwei ada di situ. Mereka lebih menakutkan bagi Ziwei ketimbang patung-patung beserta lukisan-lukisan di gerbang.

Nyonya Pertama Zheng, Ibu Zheng Yun, langsung membuang muka begitu melihat Ziwei. Dia lalu meninggalkan tempat itu tanpa berkata sepatah katapun.

Zheng Shao, kini telah menjadi Tuan Besar Zheng menggantikan ayahnya, Jendral Zheng Yue yang wafat setahun lalu. Dia menerima Ziwei kembali seperti sebuah beban dalam rumahnya. Wajahnya keruh. Dia juga tak bicara apa-apa, hanya mendesah - kemudian berlalu.

Tinggal Zheng Yun yang masih tinggal di tempat itu. Tapi dia tak memandang Ziwei. Kepalanya justru tertunduk ke bawah. Ziwei berharap-harap cemas. Menunggu. Kalau-kalau Zheng Yun mengatakan sesuatu.

Waktu terasa berjalan lambat sekali kala itu. Dalam suasana menyesakkan yang dirasakan Ziwei, tiba-tiba Zheng Yun pelan-pelan menghampirinya. Kali ini dia menatap Ziwei. Mata keduanya bertemu. Tapi Ziwei buru-buru menundukkan kepalanya seperti seorang pelayan yang telah mengkhianati majikannya. Zheng Yun mengulurkan tangan menyentuh lengan Ziwei. Ziwei menahan napas.

“Selamat datang kembali di rumah,” Zheng Yun berkata singkat. Dia melepaskan tangannya kembali lalu meninggalkan tempat tanpa sekalipun melihat ke arah Ziwei lagi.

Ziwei merasa pedih. Dari sikapnya, terbaca kalau Zheng Yun telah menolaknya.

***

Ziwei bisa merasakan kehadirannya di rumah Zheng tak lagi diharapkan seperti empat tahun sebelumnya. Orang-orang bersikap dingin. Bahkan Ziwei tak bisa mengelak dari cemoohan para pelayan yang bergosip di belakang punggungnya.

Nyonya Pertama Zheng mengunjungi Ziwei di kamarnya sehari setelah kepulangannya. Sikapnya tidak ramah seperti hari sebelumnya. Kalimat-kalimatnya menusuk dan menyakitkan.

“Bagaimana aku harus memanggilmu sekarang?” Nyonya Pertama Zheng bertanya sinis. “Apa kau masih menjadi Nona Zhao atau telah berubah menjadi Nyonya Zhang?”

Ziwei tak mampu menjawab. Kepalanya tertunduk.

“Kau bukan gadis suci lagi. Kau bahkan telah punya anak – maka kau tak pantas lagi dipanggil Nona. Tapi jika kau sekarang adalah Nyonya Zhang, kau juga tak pantas pulang kemari. Anehnya, kau masih berani punya muka bertemu kami. Jika kau masih punya rasa malu, kau seharusnya bunuh diri!”

“Ketika kau lenyap di gunung Qiu, kami sangat cemas. Kami berdoa bagi keselamatanmu. Saat kau tak kunjung muncul, kami pun mengira kau telah tewas. Jendral Tua begitu terpukul sehingga jatuh sakit dan meninggal. Tapi kenyataannya, kau lari bersama lelaki lain!”

“Kau tak tahu berterima kasih, Ziwei! Meski dijodohkan, almarhum Jendral Tua dan kakekmu memilih Zheng Yun untukmu-bukannya Zheng Xing yang cacat. Putraku sempurna. Dia tumpuan harapan keluarga Zheng kami. Dan dia memperlakukanmu amat baik. Pernahkah putraku menyakitimu?”

“Ketika kau dipanggil masuk istana oleh Permaisuri Wu, Zheng Yun bahkan rela menunggu selama tiga tahun. Zheng Yun kurang apalagi? Kau tak pernah peduli padanya. Kau bahkan tega mengkhianatinya! Apakah ini balasanmu terhadap kebaikannya?”

Ziwei merasa dadanya tertusuk. Setiap kata yang terlontar dari Nyonya Pertama Zheng ibarat palu yang memukul-mukul gendang telinga Ziwei.

Seandainya ada kesempatan, Ziwei akan memilih menghabisi nyawanya sendiri. Ini sudah dipikirkannya begitu usai mendengar keputusan Permaisuri Wu untuk memulangkannya ke kediaman Zheng. Tapi isi benaknya terbaca Permaisuri Wu. Dia memerintahkan sekelompok pengawal untuk mengawasi Ziwei sepanjang waktu. Permaisuri Wu juga mengancam pengawal-pengawal itu agar jangan sampai mereka lalai. Sehingga Ziwei berkesempatan melukai dirinya sendiri.

Di antara anggota keluarga Zheng, hanya Zheng Xing yang tidak ‘menghakimi’ Ziwei. Dia telah berusia dua puluh satu tahun dan bertubuh gemuk. Pincangnya semakin parah. Jika berjalan, Zheng Xing semakin kesulitan menyeret kakinya dan menarik tubuhnya yang gemuk.

“Aku tak akan bilang kau wanita jahat karena telah mengkhianati cinta kakakku, Nona Zhao. Aku juga tak mencapmu munafik. Apa hakku menghina orang lain sementara diriku sendiri bukan manusia sempurna?”

“Yang kusesali adalah jika kau tak bisa menjadi kakak iparku. Tak ada yang akan bersimpati padaku lagi selain kakakku nantinya. Aku rasa umurku tak akan panjang. Aku selalu merasa nyeri pada perut bawah sebelah kiri. Kata tabib, ginjalku bermasalah. Aku, anak cacat dan berpenyakitan di keluarga Zheng. Aku benar-benar tak bisa membanggakan Ayah-Ibuku, begitu juga leluhurku.”

Ziwei merasa trenyuh dengan perkataan Zheng Xing. “Aku tak tahu pasti apakah keluarga ini bangga atau tidak pada dirimu, Kakak Xing,” katanya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi satu hal yang mesti kau ketahui. Aku bangga karena pernah mengenalmu.”

***
Zheng Yun sama sekali tidak pernah menemui Ziwei. Keduanya tak pernah bicara sepatah kata lagi sejak hari pertama kembalinya Ziwei di rumah itu.

Ziwei pernah mencoba menemui Zheng Yun untuk bicara. Tapi pemuda itu menolaknya dengan berbagai alasan. Sikap acuh Zheng Yun ini semakin membuat Ziwei tertekan.

Mengetahui kehadirannya tak begitu disukai oleh anggota keluarga Zheng, Ziwei jadi lebih sering mengurung diri di kamarnya. Dia enggan keluar kamar. Bahkan makanan pun diantar ke kamarnya-meski dia sendiri tak berselera memakan apapun.

Sejak kepulangannya di rumah keluarga Zheng, nyaris setiap waktu dia didampingi dua pelayan wanita. Baik siang maupun malam. Kedua pelayan itu bahkan menginap di kamar Ziwei untuk menemaninya tidur meski menurut Ziwei itu tidak perlu.

“Ini perintah Tuan Muda Yun,” kata salah satu pelayan. “Kami diminta menemani Nona.”

Kedua pelayan itu memperhatikan segala kebutuhan Ziwei hingga ke hal-hal terkecil. Mereka juga melakukan nyaris segala sesuatunya buat Ziwei. Kadang-kadang, Ziwei merasa agak terganggu dengan kehadiran keduanya. Suatu hari, Ziwei meminta gunting karena hendak menggunting sehelai bajunya yang sobek. Salah satu pelayan dengan hati-hati membawa gunting ke hadapan Ziwei tapi tidak langsung menyerahkannya.

“Biar saya yang mengguntingnya, Nona.”

“Tak perlu. Biar kulakukan sendiri.”

“Nona tinggal tunjukkan bagian mana yang akan digunting lalu biar saya yang melakukannya,” pelayan itu bersikeras.

Ziwei merasa jengah. Diketuknya meja keras-keras. Dia mulai marah.

“Kenapa kalian tak membiarkanku melakukan hal-hal yang kumau sendiri? Kalian seperti sedang mengawasiku! Katakan, siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini? Apakah Permaisuri Wu yang mengutus kalian menyusup ke kediaman Zheng untuk memata-mataiku?”

Kedua pelayan wanita yang sesungguhnya bernyali kecil itu langsung ketakutan begitu dibentak Ziwei. Mereka menjatuhkan diri berlutut dan tergagap-gagap meracau.

“Bu... bukan Nona! Hanya Tuan Muda Yun yang meminta kami mengawasi Nona!” kata salah satu pelayan. Yang satunya menyambung,

“Tuan Muda Yun menyuruh kami mengawasi Nona agar jangan sampai terluka. Tuan Muda Yun khawatir Nona akan bunuh diri atau melukai diri sendiri jika memegang benda tajam dan jika ditinggal sendirian…”

Menganga, Ziwei mendengar penjelasan kedua pelayan itu dengan terkejut. Apa maksud Zheng Yun? Pria mengabaikannya tapi diam-diam masih peduli padanya? Sebenarnya apa yang diinginkan Zheng Yun darinya?

Kini Ziwei menyadari maksud sebenarnya dari Permaisuri Wu mengirimnya kembali ke rumah Zheng. Ini hukuman yang terlalu berat dan kejam. Mati bunuh diri akan lebih baik. Prosesnya tidak panjang dan berlangsung seketika. Tapi Permaisuri Wu tidak menganugerahkan kematian yang cepat bagi Ziwei. Ini jenis kematian yang amat menyiksa. Terombang-ambing antara terus hidup atau mati.

Tertekan dalam ketidak pastian ini dapat membuat Ziwei gila. Dan mati dalam keadaan gila benar-benar menakutkan. Kau tak sadar siapa dirimu menjelang akhir ajalmu. Ziwei ketakutan. Dia mulai menangis histeris.

Malam yang sepi, Ziwei sengaja tak menyalakan cahaya di kamarnya. Dia terduduk di lantai yang dingin sambil memeluk lutut. Kakinya telanjang tak bersepatu. Matanya menerawang.

“Ingatlah untuk terus hidup. Berusahalah untuk terus hidup!” suara Zhang Rui terngiang-ngiang.

Air mata kembali membasahi pelupuk mata Ziwei. Dalam kesunyian dan udara dingin malam itu, Ziwei jadi amat merindukan suami dan anaknya.

“Suamiku…, Yingying… Jika bukan karena kalian… aku pasti tak sanggup bertahan lagi…”
***
Status Ziwei tak jelas di keluarga Zheng. Dulu, yang diketahui orang-orang, dia ialah calon istri Zheng Yun. Tapi dengan kejadian Ziwei kawin lari bersama Zhang Rui bahkan telah memiliki seorang anak dari hubungan tersebut membuat keluarga Zheng setengah hati menerima Ziwei kembali sebagai calon menantu.

Zheng Yun juga tak menunjukkan tanda-tanda untuk memutuskan masalah pernikahannya. Sikapnya yang diam dan acuh terhadap Ziwei membuat ayahnya, Zheng Shao merasa perlu bertindak.

Maka pada suatu malam, Zheng Shao memanggil istrinya, Zheng Yun dan Ziwei. Berempat mereka bertemu di kamar Zheng Shao membicarakan masalah perjodohan Zheng Yun-Ziwei.

“Kalian semua tentu sudah tahu maksud pertemuan ini,” kata Zheng Shao. “Permaisuri Wu telah mengembalikan Ziwei ke rumah ini sesuai janjinya empat tahun lalu. Kini, aku bertanya padamu Zheng Yun, apakah kau masih ingin menikahi Ziwei? Dengan kondisi Ziwei sekarang, aku tak akan menyalahkanmu jika kau menolak perjodohan ini. Tapi kau perlu mengatakan kepada kami hal itu agar nasib Ziwei dapat diputuskan. Jika kau menolak menikah, kami akan mengembalikan Ziwei ke rumah orang tuanya.”

“Aku jelas tidak setuju dengan pernikahan ini!” Nyonya Pertama Zheng menyambung. “Ziwei sudah tidak pantas menjadi istri Zheng Yun lagi! Kita harus mencari calon mempelai baru bagi Zheng Yun!”

“Ibu…,” gumam Zheng Yun.

“Kalaupun kau masih menyukainya karena kecantikannya, kau bisa menjadikannya sebagai selir-bukan istri sahmu!” Nyonya Pertama Zheng menukas sembari memandang tajam pada Ziwei. “Wanita yang telah ternoda tidak akan diterima sebagai menantu keluarga ini lewat pernikahan resmi!”

“Aku menolak usul Ibu!” Zheng Yun berkata tegas. “Aku tetap akan menikahi Ziwei!”

“Apa?!” seru Nyonya Pertama Zheng. “Anakku, apakah kau kini telah sama bodohnya dengan adikmu?”

“Aku tidak bodoh,” sangkal Zheng Yun. “Aku akan tetap menjalankan perjodohan ini karena almarhum kedua kakek telah mengaturnya. Aku akan memenuhi keinginan mereka supaya aku dan Ziwei bersanding sebagai suami-istri.”

“Anakku, kau jangan menjebak dirimu sendiri dengan janji di masa lalu itu! Ziwei telah mengkhianatimu! Dia yang bersalah duluan! Perjodohan ini pantas dibatalkan! Baik mendiang kakekmu maupun Tuan Zhao Ji tak mungkin menyalahkanmu atas hal ini.”

Zheng Shao yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Baiklah jika kau tetap ingin menikahi Ziwei. Itu artinya kau pria berjiwa besar. Tapi Ziwei patut mengijinkanmu mengambil selir setelah kalian menikah. Begitu baru adil.”

“Aku tak akan mengambil selir. Aku hanya akan menjadikan Ziwei sebagai satu-satunya istriku.”

Nyonya Zheng sangat marah mendengar perkataan Zheng Yun.

“Ayahmu dulu mengambil selir lagi karena aku tak mampu memberinya lebih banyak putra selain dirimu. Tapi wanita ini? Apa yang telah diberikannya padamu sehingga kau begitu tergila-gila? Oh, Tian!” Nyonya Pertama Zheng mengerang. “Mengapa putraku jadi selemah ini? Dia telah buta demi seorang wanita hina!”

Ziwei mendengar percakapan itu dalam kebisuan. Setiap kata-kata meresap ke dalam sukmanya tapi dia tak bereaksi sedikit pun. Terakhir Zheng Yun menutup percakapan malam itu dengan berkata,

“Demikianlah keputusanku. Ayah-Ibu telah mendengarnya. Silakan Ayah dan Ibu menetapkan tanggal pernikahannya. Segala persiapan pernikahan ini aku pun serahkan sepenuhnya kepada Ayah dan Ibu untuk diatur.”

Nyonya Pertama Zheng masih marah dengan keputusan Zheng Yun. Menggigit bibirnya, Nyonya Pertama Zheng mengepalkan tangan lalu memukul meja sewaktu Zheng Yun dan Ziwei keluar dari ruangan itu.

***
“Kakak Yun, kita berdua perlu bicara.”

Ziwei berkata kepada Zheng Yun ketika mereka keluar dari kamar Zheng Shao. Zheng Yun berhenti berjalan mendengar Ziwei. Dia berbalik, samar-samar tersenyum sambil berkata,

“Hari sudah larut. Kembalilah ke kamarmu untuk memulihkan kesehatanmu. Mulai besok kau akan sibuk mempersiapkan diri untuk pernikahan.”

“Kita perlu bicara sekarang!” Ziwei berkata tegas. “Kau harus mendengar kata-kataku! Kau jangan coba menunda atau menghindar lagi!”

Dengan frustasi Ziwei mendesak. Zheng Yun akhirnya merasa tidak tega. Dia memenuhi keinginan Ziwei untuk bicara berdua.

Zheng Yun dan Ziwei menuju kamar Zheng Yun. Hanya mereka berdua. Zheng Yun tidak memulai percakapan sehingga tercipta kesunyian cukup lama. Ziwei melihat sekeliling ruangan. Pandangannya terpatri pada layang-layang yang dilukisnya sewaktu berusia enam tahun. Ziwei menguatkan diri.
“Pernikahan ini tidak boleh dilaksanakan. Kita tidak boleh menikah.”

Zheng Yun terkejut. “Mengapa? Bukankah kau telah mendengar sendiri kalau aku bersedia menerimamu sebagai istri? Aku tak akan pernah mempermasalahkan kondisimu. Aku hanya berharap kau bisa melupakan pria itu dan anakmu. Lalu kita bisa memulai dari awal lagi.”

“Tak akan ada hubungan yang bisa mulai dari awal lagi di antara kita!” tukas Ziwei. “Ibumu benar. Aku wanita hina yang tidak pantas diterima di keluarga ini. Selain itu, jika kita tetap menikah, ini hanya akan menjadi perkawinan penuh toleransi-bukan cinta.”

“Kita akan saling mencurigai. Aku sangsi pada ketulusanmu dan kau pasti ragu apakah aku telah melupakan suami dan putriku. Kukatakan padamu Kakak Yun, aku memang tak akan pernah melupakan mereka. Aku mencintai Zhang Rui selamanya! Dan Yingying telah menjadi separuh dari bagian diriku. Aku tak akan membuang mereka hanya demi dirimu!”

Zheng Yun merasa sangat terpukul dengan pengakuan Ziwei. Alasan kenapa dia selalu menghindari Ziwei selama kepulangannya adalah dia tidak siap jika Ziwei berterus terang seperti ini. Zheng Yun takut mendengar Ziwei mengaku dia bersalah. Dan yang lebih buruk-adalah mendengar Ziwei mengatakan jika dia lebih mencintai seorang pria yatim-piatu-gelandangan ketimbang dirinya.

“Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu, Ziwei,” Zheng Yun berkata dengan suara tercekat. Tangannya yang diletakkan di atas meja sedikit gemetar. “Saat pertama kali melihatmu melangkah masuk ke dalam kamar kakekku, saat itulah aku sadar-aku mau meletakkan masa depanku di dalam genggaman tanganmu.”

Zheng Yun memandang Ziwei. Ziwei segera menyadari kalau dia belum pernah dipandangi seperti itu oleh Zheng Yun. Pria itu tampak terluka. Tapi perkataan berikutnya harus tetap dilanjutkan Ziwei. Zheng Yun akan lebih sakit hati dari sekarang jika dia tetap menikahi Ziwei. Zheng Yun pasti lebih terluka di masa mendatang jika mereka benar-benar hidup dalam pernikahan yang dipenuhi kepura-puraan serta formalitas belaka.

“Biarkan aku menjadi biksuni,” Ziwei bergumam. Zheng Yun terkejut. “Aku juga sudah tak mungkin kembali ke rumah orang tuaku.” Lanjut Ziwei. “Aku lebih baik masuk biara dan memuja Buddha. Berdoa dan menyepi untuk merenungkan kesalahan-kesalahanku selama ini.”

“Jangan lakukan itu!” Zheng Yun memohon sambil menggenggam tangan Ziwei. “Apakah masuk biara lebih baik daripada menikah denganku? Aku menerimamu apa adanya Ziwei. Aku memaafkanmu. Aku berjanji tak akan mengungkit masa lalumu. Kumohon, berilah kesempatan bagi hubungan kita.”

Rasanya Ziwei hendak menangis. Dia telah bertindak kejam dengan menyakiti Zheng Yun. Pria itu malah bersedia memaafkannya. Apakah Zheng Yun seorang pria yang lemah? Tidak! Zheng Yun justru seorang pria yang baik. Teramat baik. Mengapa baru sekarang Ziwei menyadarinya? Ziwei tak mengerti. Sungguh tak mengerti.

“Biarkan aku masuk biara untuk menebus dosaku, Kakak Yun,” Ziwei berlutut memohon. “Inilah pilihan terbaik bagi kita berdua. Ijinkan aku memilih jalan ini untuk meringankan perasaan bersalahku padamu. Jika tidak, aku tak bisa tenang selama sisa hidupku-bahkan perasaan bersalah ini akan kubawa terus sampai mati.”

Zheng Yun pedih melihat Ziwei memohon. Dia mengulurkan tangan meminta Ziwei berdiri tapi wanita itu menolaknya. Ziwei tak akan berdiri sampai Zheng Yun mengabulkan permohonannya.

“Jika kau tak membiarkanku menjadi biksuni, maka ijinkanlah aku mati!” raung Ziwei.

Zheng Yun langsung memeluk erat Ziwei. “Aku tak akan membiarkanmu mati! Tidak akan!”

Ziwei menangis putus asa dalam pelukan Zheng Yun. “Baiklah,” kata Zheng Yun akhirnya dalam suara parau. “Baiklah. Kuijinkan kau masuk biara. Tetapi… ada syaratnya…”

Zheng Yun melepaskan pelukannya dan memandang Ziwei lekat-lekat. “Kau harus berjanji kalau kau akan tinggal di biara selamanya. Jangan kemana-mana. Terlebih kau jangan sampai pergi mencari suami dan putrimu kembali. Kau harus bersumpah tidak menemui mereka lagi!”

“Sebab aku tidak rela melihatmu bersama pria lain. Meski dihina siapapun sebagai lelaki tolol, aku tetap mencintaimu. Jika kau kembali bersama mereka, pengorbananku atas seluruh penghinaan itu akan sia-sia. Aku berikrar Ziwei, jika aku tahu kau kembali kepada mereka-aku akan buat perhitungan dengan pria yang telah merampasmu dariku itu! Aku tak segan-segan! Akan kuhabisi nyawa pria itu beserta putri kalian!”

Bahu Ziwei diguncang-guncang. Kalimat terakhir Zheng Yun diucapkannya dengan sungguh-sungguh. Penuh ancaman. Ziwei mencoba melihat jauh ke dalam sepasang mata itu. Ketakutan, terluka dan amarah telah membaur jadi satu dalam kedua bola mata yang semakin gelap. Ziwei menyentuh sepasang tangan Zheng Yun yang masih merengkuh wajahnya.

“Ya, aku berjanji…,” ucapnya lirih. “Aku berjanji tidak akan mencari Zhang Rui dan Yingying…”

Dalam hidupnya Ziwei ditakdirkan bertemu dua pria yang mencintainya. Satu memberinya kebebasan tanpa syarat sedang yang satunya menuntut pamrih.

Perlahan-lahan, Zheng Yun melepaskan tangannya dari Ziwei. Dia tak berkata apa-apa lagi. Ketika Ziwei melangkah keluar dari kamar, Zheng Yun tengah duduk membelakanginya. Yang tidak diketahui Ziwei, setelah dia menutup pintu, Zheng Yun menelungkupkan wajah pada kedua tangannya-terisak diam-diam.

***
Tiga hari kemudian, dalam balutan pakaian serba putih dan rambut setengah terurai, Ziwei siap menaiki tandu.

Tandu itu akan membawanya ke kuil Awan Terang di pinggir kota Chang’an. Tempat Ziwei menjalani kehidupan biaranya.

Hanya Zheng Yun-anggota keluarga Zheng yang melepas kepergiannya di gerbang. Keduanya telah saling mengembalikan barang bukti pertunangan. Ziwei telah mengembalikan leontin Zheng Yun. Dan Zheng Yun telah mengembalikan layangan Ziwei-yang kemudian dibakar oleh wanita itu. Secara harfiah, keduanya kini telah terbebas dari ikatan pertunangan mereka.

Tapi di tahun-tahun mendatang Zheng Yun masih juga terobsesi dengan Ziwei-yang telah berganti nama menjadi Biarawati Huiqing.. Dia selalu mengunjungi sang biarawati jika ada kesempatan. Orang-orang mengira dia dermawan murah hati-karena setiap kali ke kuil Awan Terang, Zheng Yun pasti menyumbang besar-besaran.

Yang tak diketahui orang-orang itu, tujuan sebenarnya Zheng Yun mengunjungi kuil itu hanya untuk mengecek: bahwa mantan tunangannya tidak melarikan diri lagi!

***
Lima Belas Tahun Kemudian di kuil Awan Terang.

Pertemuan tak terduga antara suami-istri-anak terjadi di sebuah pondok bambu bagian belakang kuil. Sang istri berdiri pucat seperti melihat hantu. Sang suami tengah menunggu penjelasan. Si anak tengah menelaah fragmen yang sementara terjadi.

“Rupanya kau masih hidup, Ziwei. Mengapa kau mengasingkan diri di sini dan melupakan kami?”

Biarawati Huiqing, alias Zhao Ziwei, tak kuasa mendengar pertanyaan Zhang Rui yang seolah menuduhnya.

“Aku tak melupakan kalian. Aku tak pernah melupakan kalian!” Ziwei menjawab terbata-bata. “Tapi aku tak bisa mencari kalian! Aku tak bisa menemui kalian lagi!”

“Kenapa?!” tuntut Zhang Rui. Dia maju hendak menyentuh Ziwei tapi Ziwei buru-buru menghindar.

Ziwei menggeleng-gelengkan kepala. Dia teringat janjinya pada Zheng Yun. “Aku tak bisa mengatakan alasannya pada kalian. Tidak bisa!”

Yingying spontan maju berlutut dan memeluk erat kaki Ziwei.

“Ibu! Ayah tak pernah jelas mengatakan kau berada di mana. Dia juga tak pernah bilang kalau kau sudah wafat. Jadi, aku selalu berharap kau tetap hidup sehingga aku masih bisa menemuimu! Kini impianku itu telah terkabul!”

Ziwei menatap wajah Yingying yang telah dikenalnya selama tujuh hari sebagai murid lukisnya. Kenapa dia tak menyadari kalau gadis itu-seperti yang diramalkan Kasim Wang lima belas tahun lalu? Gadis itu meyerupainya-kecuali sepasang mata sipit yang terwarisi dari ayahnya.

“Bukankah sudah kukatakan kalau kau harus mengatakan aku sudah mati kepada anak kita?” tanya Ziwei kepada Zhang Rui. “Agar dia tak bertanya-tanya lebih banyak tentang aku.”

“Bagaimana aku bisa menyampaikan kebohongan pada Yingying?” tukas Zhang Rui. “Bukankah kau dulu memintaku mendidiknya menjadi baik? Bagaimana aku bisa mendidiknya menjadi baik jika aku berdusta padanya?”

Sambil menangis, Yingying terus memeluk erat kaki Ziwei. “Ayah benar tak berkata begitu padaku. Ibu, kini kami telah mendapatkanmu. Kumohon, kembalilah bersama kami!”

“Aku tak bisa!” tolak Ziwei. Dia melepaskan pelukan Yingying dengan kasar hingga gadis itu tersungkur. “Kau tahu apa soal diriku? Kalian mana tahu kalau aku di sini untuk menjalani hukuman?”

Yinying terisak. Tapi dia tak menyerah. “Sebenarnya dosa apa yang pernah Ibu lakukan? Hukuman apa yang mesti Ibu jalani? Katakan padaku! Aku akan mewakilimu menjalani hukuman itu…”

Yingying melirik kepala biara yang tadi membawa mereka ke pondok bambu. Dia merangkak ke arahnya.

“Biksuni, katakan hukuman apa yang dijalani Ibu hingga dia dikurung di sini? Aku akan turut melaksanakannya! Apakah dengan membaca sutra Budha seumur hidup? Apakah dengan menjadi biarawati? Aku siap menjadi biarawati di sini jika itu dapat membebaskannya dari hukuman!”

“Yingying!” Zhang Rui dan Ziwei berseru bersamaan. Yingying bersujud berulang kali seperti orang kesurupan di hadapan kepala biara. Dahinya terantuk beberapa kali di lantai. Nyonya Ma yang tidak tahan melihatnya akhirnya menarik Yingying.
“Hentikan Yingying! Kepalamu bisa luka jika kau begitu terus!” seru Nyonya Ma. Dia mendekap dan mengelus Yingying yang masih menangis.

Ziwei terhuyung ke belakang. Peristiwa semacam ini tak pernah dibayangkannya sama sekali!

***

Malam yang telah turun membuat suasana temaram di sekeliling pondok bambu.

Kepala biara mendatangi Ziwei yang seharian itu termenung di biliknya. Kepala biara menyingkap sedikit jendela pondok, mengintip keluar. Yingying dan Zhang Rui masih di luar. Sudah seharian mereka di sana. Yingying berlutut, tak pernah beranjak dari tempatnya selangkah pun.

“Putrimu itu telah seharian dalam kondisi begitu. Anak yang baik. Tidakkah kau kasihan padanya, Biarawati Huiqing?”

Ziwei tak bergeming di tempat duduknya. Tapi dia meresapi kata-kata kepala biara. Dia teringat saat usai melahirkan bayinya. Zhang Rui takut menggendongnya. Zhang Rui meminta Ziwei memilih nama yang gampang ditulis olehnya kelak, dan Ziwei memilih nama Yingying.

Ziwei berpisah dengan Yingying ketika bayinya itu baru berumur dua minggu. Dan setelah lima belas tahun mereka baru bertemu kembali. Yingying telah menjelma menjadi gadis cantik dan baik hati. Zhang Rui berhasil mendidiknya. Dan Ziwei bersedih karena telah kehilangan lima belas tahun kehidupan putrinya.

“Biarawati Huiqing, kembalilah kepada suami dan putrimu,” ujar kepala biara. Ziwei menatap ke arahnya.

“Kau tahu kenapa hingga kini aku belum menerimamu sebagai biksuni dan mencukur rambutmu? Karena aku tahu, meski kau telah lima belas tahun tinggal di sini, menjadi vegetarian dan membaca sutra Buddha ratusan ribu kali - kau masih terkunci oleh masa lalumu.”

“Kau kemari karena kau ingin lari dari pernikahanmu dengan Jendral Zheng. Kau menghukum dirimu sendiri disini, disamping masih memikirkan suami dan anakmu. Aku tidak pernah mau menasbihkan seorang biksuni yang masih belum bisa terlepas dari keterikatannya. Maka itu aku hanya membiarkanmu tinggal di sini sebagai wanita bukan perumah tangga yang ingin menyepi.”

Ziwei hendak melakukan usul kepala biara. Dia ingin segera keluar dari pondok bambu, berlari memeluk Yingying serta Zhang Rui. Nasib Ziwei lebih malang daripada Bidadari Penenun. Dalam legenda kuno, Bidadari Penenun masih bisa bertemu anak dan suaminya setahun sekali dalam bentuk bintang Altair dan Vega. Sedangkan Ziwei harus menunggu lima belas tahun lamanya.

Ziwei teringat kata-kata Zheng Yun lagi, “Aku berikrar, jika aku tahu kau kembali kepada mereka-akan kuhabisi nyawa pria itu beserta putri kalian!” Kata-kata itu membuat Ziwei takut. Membuatnya tak berani melaksanakan keinginannya.

”Sudah lima belas tahun berlalu,” ujar kepala biara lembut. “Jendral Zheng juga sudah punya keluarga sendiri. Dulu dia mungkin pernah mengucapkan kata-kata mengerikan karena waktu dikuasai emosi. Sekarang, tentunya dia telah berubah. Sekian tahun berlalu, dia pasti bisa melihat situasi ini lebih bijak.”

“Ada orang yang berbahagia dengan menjadi biarawan atau biksuni. Tapi ada juga orang yang lebih berbahagia menjalani hidup berumah tangga. Jalan kebahagiaan di dunia bermacam-macam. Sekarang ini, kau tak cocok lagi dengan kehidupan biara, Nona Zhao. Kembalilah pada kehidupan berumah tanggamu dan kau pasti lebih berbahagia daripada sekarang.”

Ziwei seolah terbius dengan kata-kata kepala biara. Mendadak semua beban di dadanya terangkat. Dan dia akhirnya tersenyum.

***
Ziwei melangkah keluar dari pondok bambunya menghampiri Yingying dan Zhang Rui perlahan-lahan.

Punggung Yingying menegak melihat kemunculan ibunya. Apakah…, apakah ibunya telah memutuskan…?

“Ibu,” panggil Yingying. Cukup satu panggilan itu meluruhkan pertahanan terakhir Ziwei. Ziwei menyongsong putrinya, mencercahinya dengan kecupan-kecupan sayang lalu memeluknya.

Tak ada hukuman atau penantian lagi. Ibu dan putri berpelukan. Zhang Rui mendekap kedua wanita yang dikasihinya itu. Seperti pada malam lima belas tahun lalu ketika mereka lari dari kejaran Kasim Wang di padang ilalang.

***
Dua bulan kemudian…

Pada hari Qing Ming tahun itu, Zheng Yun mengunjungi makam leluhurnya di luar kota Chang’an seperti yang rutin dilakukannya pada tahun-tahun sebelumnya.

Zheng Yun mengajak istri dan kedua putranya, Zheng Lan dan Zheng Yu. Mereka menziarahi makam para tetua lebih dahulu baru yang terakhir makam Zheng Xing, adik tiri Zheng Yun.

Zheng Xing meninggal di usia dua puluh lima. Seperti yang sudah diramalkannya, umurnya tak akan panjang. Di penghujung hidupnya, ginjalnya yang rusak tak sanggup membuatnya bertahan lebih lama lagi.

Zheng Xing tidak pernah menikah. Zheng Yun yang mengasihinya lalu memberikan putra sulungnya, Lan, sebagai anak angkat Zheng Xing. Kelak anak maupun cucu Lan akan dianggap sebagai keturunan Zheng Xing.

Setahun setelah Ziwei masuk kuil Awan Terang, Zheng Yun menikah dengan seorang gadis muda dari keluarga terpandang. Orang tuanya tak salah memilihkan gadis itu karena dia tak kalah cantiknya dari Ziwei. Dia hanya tak bisa melukis seperti Ziwei.

Namun istrinya ini tak bisa menerima adik tiri suaminya bagian dari keluarga Zheng. Istri Zheng Yun hanya menganggap Zheng Xing yang bodoh dan cacat sebagai borok dalam keluarga. Dia juga tidak setuju ketika Zheng Yun memberikan putra tertua mereka, Lan, diangkat anak oleh Zheng Xing. Zheng Yun tahu-tapi mengabaikan protesnya.

Usai melaksanakan ritual Qing Ming, Zheng Yun dan keluarganya bersiap meninggalkan pemakaman. Sebelum naik ke kudanya, Zheng Yun berkata pada kedua putranya,

“Lan, Yu, kalian temani Ibu kalian pulang ke rumah. Ayah mau mengunjungi kuil Awan Terang dulu.”

Kedua putranya menyanggupi. Zheng Yun melihat sekilas ke wajah istrinya yang dingin. Pasti mengunjungi biarawati itu, batin Nyonya Zheng.

Meski telah menjadi suami-istri belasan tahun, Nyonya Zheng tetap tak dapat memenangkan hati suaminya. Dia selalu dilanda kecemburuan setiap kali mendapati Zheng Yun lama tepekur di paviliun kakeknya-memandangi lukisan bunga persik karya cinta pertamanya.

Awalnya Nyonya Zheng merasa amat bahagia karena menikahi pria seperti Zheng Yun. Dia tampan, cerdas dan berkarir cemerlang. Tapi kebahagiaannya mulai terusik tatkala mendengar desas-desus tentang mantan tunangan suaminya itu.

Kala itu, Nyonya Zheng masih bisa menghibur diri kalau dia pasti lebih baik dari kekasih pertama suaminya. Suatu hari, Zheng Yun mengajaknya menemui sang biarawati. Karena penasaran, Nyonya Zheng setuju.

Istri Zheng Yun sangat shock begitu melihat sang biarawati. Meski berpenampilan sederhana dalam pakaian biaranya, Huiqing masih sanggup menarik perhatian Zheng Yun. Nyonya Zheng terpukul melihat cara suaminya memandang dan bicara kepada Biarawati Huiqing. Itu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir. Sejak itu, Nyonya Zheng selalu menolak jika diajak menemui sang biarawati.

***
Zheng Yun membakar dupa dan kertas persembahan di kuil Awan Terang. Usai bersembahyang, seperti yang sudah sering dilakukannya, Zheng Yun masuk ke bagian dalam kuil menuju pondok bambu kediaman Biarawati Huiqing.

Tapi sesampainya di sana, Zheng Yun terkejut ketika melihat pondok bambu yang biasanya sepi telah berubah fungsi. Sekelompok biarawati dan biksuni duduk di dalam. Mereka sedang berdiskusi. Kepala biara duduk agak atas dan paling depan memimpin jalannya diskusi.

Diskusi terhenti sewaktu Zheng Yun masuk. Para biarawati dan biksuni melihat ke arah pria bertubuh jangkung yang kebingungan itu. Zheng Yun mencari-cari sosok Huiqing tapi tak ditemukannya. Dia menghampiri kepala biara.

“Dimana Biarawati Huiqing? Kenapa aku tidak melihatnya di sini?”

Kepala biarawati terdiam sejenak. Lalu dia menjawab, “Biarawati Huiqing sudah tak berada di biara ini lagi.”

“Apa?”

“Dia telah kembali bernama Zhao Ziwei dan menjalani kehidupan umat biasa.”

Zheng Yun amat terkejut sampai terhuyung. “Bagaimana bisa… dia pergi dari sini?” tanyanya seperti orang linglung. “Jangan katakan… kalau dia mencari mereka. Kepala biara, jangan katakan kalau dia telah menemukan mereka!”

“Biarawati Huiqing tidak pernah mencari suami dan putrinya,” kata kepala biara kalem. “Merekalah yang telah menemukan biarawati Huiqing.” Kepala biara menatap langsung ke dalam mata Zheng Yun, “Ini adalah takdir Jendral. Jalinan hubungan mereka begitu kuat. Sekalipun mereka berusaha dipisahkan, jalinan itu akan mempertemukan mereka kembali. Hanya soal waktu. Kau seharusnya telah merelakannya.”

Kata-kata kepala biara seperti ejekan bagi Zheng Yun. Amarah dengan cepat menguasai sang jendral hingga dia menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya ke leher kepala biara.

Seluruh biarawati dan biksuni yang hadir di situ memekik. Kepala biara mengangkat tangan meminta mereka untuk tidak khawatir. Di bawah todongan pedang, sikap kepala biara masih bisa begitu tenang.

“Jangan mengajariku caraku bersikap, Biksuni!” geram Zheng Yun. “Kau tak pernah merasakan sakit hati dicampakkan orang yang kau cintai! Kau juga tidak tahu bagaimana rasanya dihina oleh kolegamu-yang tahu tunanganmu meninggalkanmu demi seorang gelandangan!”

“Amitabha…,” gumam kepala biara. “Semua orang pasti akan berpisah dengan hal-hal yang dia cintai. Kau seorang Jendral yang telah mengikuti banyak peperangan dalam hidupmu. Kau telah menaklukkan puluhan ribu orang. Tapi sayang, kau justru tak dapat menaklukkan dirimu sendiri…”

Mata Zheng Yun berkilat seperti pedangnya. Dia menekan pedangnya hingga menyentuh leher kepala biara. Para biarawati dan biksuni kembali berseru.

“Aku telah mendermakan banyak hartaku kemari, Biksuni. Dengan harapan agar kau menjaga Biarawati Huiqing. Aku sudah pernah berpesan padamu, jangan sampai dia keluar dari tempat ini,” Zheng Yun setengah berbisik. “Sekarang, katakan kemana mereka pergi, Biksuni!”

Kepala Biara memejamkan mata dan dengan tenang berujar, “Aku tak akan pernah mengatakan kemana mereka pergi.”

Zheng Yun menyeringai. Dia menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali.

“Sepertinya kau tak akan bicara sekalipun kuancam, Biksuni,” seloroh Zheng Yun. “Dan membunuhmu di depan banyak orang hanya akan mencemarkan nama baikku. Baiklah kalau kau tak mau memberitahuku. Tapi bukan berarti aku tidak akan menemukan cara untuk memperoleh informasi keberadaan mereka. Aku bersumpah, kemanapun mereka pergi pasti akan kutemukan!”

Dengan berapi-api, Zheng Yun meninggalkan pondok bambu.

***
Di Dusun Wei, Ziwei hidup tenang bersama putri dan suaminya.

Mulanya, penduduk desa terkejut mendengar pandai besi Zhang telah menemukan istrinya kembali. Tetangga mereka, keluarga Ma-yang paling pertama tahu soal ini, bersikap bijak dengan tidak sembarangan menyebarkan desas-desus. Akhinrnya, Zhang Rui sendirilah yang memberi keterangan kepada warga desa.

“Tidak lama setelah Yingying lahir, desa tempat kami tinggal terkena bencana banjir bandang. Aku dan Yingying akhirnya terpisah dari istriku. Tidak disangka, lima belas tahun kemudian kami bertemu kembali. Istriku rupanya tinggal di sebuah biara karena tidak tahu harus kemana mencari kami.”

Penduduk Dusun Wei menerima cerita tersebut. Mereka mengucapkan selamat kepada Zhang Rui dan Yingying karena telah berkumpul lagi bersama istri serta ibu mereka. Para warga juga menyambut kedatangan Ziwei dengan baik. Dari mereka, Ziwei jadi tahu kehidupan Zhang Rui dan Yingying lima belas tahun tanpa kehadirannya.

Meski rumah di Dusun Wei kecil dan amat sederhana, tapi karena telah terbiasa hidup sepi di podok bambu biara, Ziwei mampu menyesuaikan diri. Beberapa kebiasaan biara tetap dilakukannya seperti vegetarian dan membaca sutra Buddhis di waktu pagi dan sore.

Ziwei mulai membiasakan diri dengan kehidupan berkeluarga yang dulu tidak sempat dikecapnya. Punya rumah kecil, suami yang penuh kasih serta seorang putri yang layak dicintai. Hubungannya dengan Yingying terbangun cukup cepat dan akrab. Adakalanya, saat Yingying bicara dan lupa kata-kata selanjutnya, Ziwei-lah yang menyelesaikan perkataannya. Bagi Zhang Rui, itu sudah cukup membuktikan kalau ikatan batin ibu dan anak di antara keduanya cukup kuat meski telah lima belas tahun terpisah.

Ziwei sering berjalan berdua bersama Yingying mengunjungi bukit-bukit berpemandangan indah untuk melukis. Ziwei memuji pemandangan Dusun Wei. Dia senang karena Zhang Rui memilih tempat yang tepat untuk tinggal dan membesarkan Yingying.

Yingying juga senang melihat ayah dan ibunya berkumpul kembali.Yingying kini melihat sendiri kalau ayahnya sangat mencintai ibunya. Zhang Rui semakin sering tersenyum sekarang. Senyuman itu melembutkan garis-garis wajahnya dan membuatnya terlihat lebih muda. Ah, ayah-ibunya memang masih muda. Yingying bahagia melihat keduanya ibarat sepasang kekasih baru lagi.

Suatu siang, Zhang Rui dan Ziwei pergi berjalan-jalan menjelajahi bukit. Kali ini, Yingying yang ditinggal di rumah. Dia sedang di halaman belakang-memilah-milah kacang kedelai untuk dibuat tahu. Si anak tetangga, Ma Junqing, tiba-tiba muncul. Dia melompati pagar bambu setinggi pinggang orang dewasa dan bergegas menghampiri Yingying.

“Hei, Junqing! Belakangan ini aku jarang melihatmu,” sapa Yingying.

“Akulah yang jarang melihatmu,” tukas Junqing. “Spanjang waktu kau selalu bersama ibumu sehingga melupakan aku.”

Ada nada cemburu dalam suara Junqing. Yingying tersenyum. “Kita kan sudah selalu bertemu selama belasan tahun, sedangkan aku baru saja bertemu ibuku. Tentu saja aku akan menghabiskan waktu paling banyak dengannya.”

Lalu Yingying berkata asal lalu, “Aku tak mau kehilangan ibu lagi. Aku bahkan mau menemaninya selamanya.”

“Apa? Selamanya?” seru Junqing. “Itu tidak mungkin! Kau akan menikah kelak. Bagaimana mungkin kau bisa bersama ibumu seterusnya?”

“Kalau begitu, aku tak menikah saja!”

“Hah? Kau jangan sembarang bicara!” Junqing terlompat berdiri. “Kalau kau tak menikah, kau akan… kau akan…”

“Akan apa?” tanya Yingying heran melihat reaksi Junqing.

“Kau akan menjadi makhluk cantik yang sia-sia!”

Yingying menganga. Junqing segera menyambung, “Dan akan ada seseorang merana karena itu!”

Kening Yingying berkerut. “Kau jangan memprotes tentang pernikahanku. Lalu bagaimana dengan Chen Ajiao? Bukankah dulu kau pernah bilang akan menikahinya ketika dewasa?”

Junqing tercekat. Tanpa melihat Junqing, Yingying melanjutkan, “Kudengar sudah ada satu-dua pemuda yang melamar Ajiao. Tapi dia menolak. Mungkin dia mengharapkan kedatanganmu. Sebaiknya, kau segera meminta ibumu untuk melamarnya. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama, nanti keburu ada calon lain yang lebih potensial menggaetnya.”

Junqing gemas mendengar perkataan Yingying. ”Duh, kau ini! Apakah kau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

“Apa?” Yingying kembali tidak mengerti. Hidung Junqing kembang-kempis karena kesal.

“Sebenarnya, aku…”

Perkataan Junqing terpotong karena ada seseorang yang memanggil di depan bengkel.

“Pandai Besi Zhang, apakah kau ada di rumah?”

Yingying menoleh ke arah datangnya suara. “Sepertinya itu Tuan Cai si kepala desa. Aku harus menemuinya.”

Junqing menghentakkan kaki karena perkataannya terputus oleh teriakan tersebut. Dia mengikuti Yingying masuk ke dalam rumah. Keduanya menuju bagian depan bengkel Zhang Rui.

Memang betul Tuan Cai yang datang. Bersamanya ada seorang lelaki tinggi besar. Dia berdiri di samping Tuan Cai membelakangi Yingying dan Junqing. Pakaiannya terlihat bagus. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang yang tersarung di pinggang.

“Ayah sedang pergi bersama ibu. Ada apa anda mencarinya, Tuan Cai?” tanya Yingying pada kepala desa.

Tuan Cai yang berumur enam puluhan dan rambut putih itu berkata dengan ramah, “Tuan Besar ini hendak bertemu dengan ayahmu.”
Yingying melihat ke lelaki tersebut. Pria itu berbalik ketika diperkenalkan Tuan Cai. Dan sejurus kemudian, Yingying terkejut.

Pria ini adalah jendral yang dilihat Yingying mengunjungi pondok bambu sewaktu ibunya masih berstatus sebagai Biarawati Huiqing!

Zheng Yun menatap Yingying dengan dingin. “Sebenarnya bukan hanya ayahmu yang ingin kutemui. Tapi juga kau dan ibumu!”

Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar