Welcome to my world

Segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China tertuang di sini.

Sabtu, 01 Mei 2010

The Painter Lady (2): Rahasia Mulai Terkuak


Zhang Rui dan Yingying berangkat bersama keluarga Ma ke Chang’an pada hari kelima tahun baru.

Perjalanan berlangsung lancar. Cuaca bersahabat, jalan yang dilalui pun cukup baik meski di beberapa sisi jalan, salju musim dingin masih membentuk gundukan-gundukan kecil. Kaum wanita dalam rombongan memakai kereta sedang para pria menaiki kuda. Tuan Ma merasa perjalanan ini pertanda baik. Apalagi, Zhang Rui dan putrinya yang tidak biasa berpergian ikut di dalamnya.

Rombongan ini tiba di Chang’an dua hari kemudian pada waktu tengah hari. Tuan Ma sengaja menghentikan rombongan di alun-alun kota supaya Zhang Rui dan Yingying dapat melihat keramaian Chang’an dari pusat kota.

Dan, wah, Yingying benar-benar terkesima. Pemandangan kota Chang’an sungguh di luar perkiraannya. Rumah-rumah di Chang’an begitu padat hingga nyaris berdempetan satu sama lain. Dan meski tak tampak hujan jika orang-orang menyeka keringat seperti kata Junqing, jumlah orang-orang di Chang’an tetap banyak - walau penduduk Dusun Wei bergabung dengan penduduk dari lima desa sekitarnya.

Yingying menganga menatap kebesaran kota Chang’an hingga tak menyadari sesuatu menghampiri wajahnya. Dia merasa pipi kanannya digosok oleh sesuatu yang menyerupai bulu kasar. Ketika berbalik, Yingying terkejut bukan main karena melihat sebuah kepala berbentuk aneh di sampingnya.

“Auw! Ayah! Tolong aku!” Yingying berteriak.

Zhang Rui mendengar seruan Yingying bergegas memegang putrinya yang hampir jatuh karena terkejut.

“Ayah, hewan apa itu?” Yingying gemetar menunjuk hewan berleher panjang dengan punggung berpunuk.

“Itu onta. Onta binatang padang pasir. Dia tahan terhadap cuaca panas meski tak minum untuk waktu yang lama. Banyak orang dari negeri-negeri asing di barat memakai onta kemari jika mereka harus melalui Gurun Taklamakan atau Gobi.”

Junqing yang menyaksikan peristiwa tadi mengejek Yingying, “Begitulah jika kau tak pernah keluar dari dusun kita – melihat onta saja kau takut!”

Yingying meringis. Setelah ketakutannya mulai pulih, dia coba menghampiri onta itu lagi - binatang aneh yang pertama kali dilihatnya. Seorang pria tinggi, berjanggut lebat, bersorban dan berjubah panjang muncul dari samping onta. Dia bicara kepada Yingying tapi bahasanya tak dimengerti gadis itu. Akhirnya pria itu tersenyum. Tangannya mengisyaratkan pesan ramah kalau Yingying boleh mengelus-elus ontanya.

“Tuan Zhang, apakah dulu kau pernah ke Chang’an?” tanya Tuan Ma.

“Ya…,” Zhang Rui menjawab lirih. “Dulu aku pernah tinggal di kota ini.”

Zhang Rui memandang berkeliling. Sepertinya bangunan di sekitar alun-alun Chang’an tak banyak berubah dari tujuh belas tahun lalu - ketika terakhir kali Zhang Rui menjejakkan kaki di kota itu.

Puluhan tahun silam, Zhang Rui kecil datang bersama ibunya yang janda ke Chang’an untuk mencoba peruntungan hidup mereka. Zhang Rui tak ingat lagi desa asal orang tuanya. Dia tak sempat menanyakan nama desa asal mereka pada ibunya, karena wanita itu tak cukup kuat bertahan di kotaraja itu. Baru dua bulan sampai di Chang’an, ibu Zhang Rui meninggal karena sakit. Dia dimakamkan oleh orang-orang yang berbelas kasihan, tak kuasa melihat jenazahnya tergeletak begitu saja di tepi jalan.

Sepeninggal ibunya, Zhang Rui menggelandang di jalanan kota Chang’an. Dia pernah bergabung dengan sekumpulan anak-anak pengemis. Zhang Rui sempat diangkat anak oleh pemilik kedai minum. Zhang Rui sempat mengira sepasang suami-istri itu orang-orang bijak - sampai disadarinya, dia ternyata dianggap tidak lebih dari sekedar pelayan hina. Zhang Rui kecil juga pernah bergabung dengan kelompok pencuri amatiran yang membuatnya ditangkap petugas lalu dipenjara.

Zhang Rui baru bertemu dengan orang yang benar-benar mengasihinya ketika berusia sebelas tahun. Seorang pria pandai besi yang tidak menikah bersedia mengasuhnya dengan tulus. Di kemudian hari, Zhang Rui begitu menghormati pria tersebut sehingga memanggilnya Ayah. Si pandai besi tak hanya mendidik Zhang Rui selayaknya orang tua. Dia juga menurunkan keahliannya mengolah logam kepada si anak angkat.

***
Rumah Tuan Kong yang besar terletak di salah satu jalan ramai di Chang’an. Tuan Kong memiliki banyak jenis usaha. Toko kain, toko obat hingga penginapan – yang terletak dalam satu jalan sehingga mudah baginya untuk mengawasi semuanya.

Rombongan dari Dusun Wei disambut ramah oleh Tuan Kong. Dia juga begitu gembira melihat kedatangan Zhang Rui dan Yingying. Tuan Kong menyediakan lima kamar bagi tamu-tamunya. Khusus bagi Zhang Rui dan Yingying, karena ini kali pertama mereka berkunjung ke rumahnya, Tuan Kong juga memperkenalkan mereka kepada anggota keluarganya yang lain.

Istri Tuan Kong seorang wanita ramah yang selalu tersenyum. Junqing memberitahu Yingying kalau Tuan Kong memiliki lima orang anak. Tiga anak pertamanya adalah perempuan yang masing-masing berusia tujuh belas, enam belas dan lima belas tahun. Selanjutnya ada anak lelaki berusia tiga belas, sekaligus menjadi anak lelaki satu-satunya keluarga Kong. Anak bungsu Tuan Kong kembali adalah perempuan. Usianya baru sepuluh tahun.

Yingying terkesima sewaktu diperkenalkan kepada tiga putri Tuan Kong yang lebih tua. Ketiganya: Daqiao, Erqiao dan Sanqiao, merupakan gadis-gadis yang cantik. Tapi bukan kecantikan mereka yang membuat Yingying tercengang – melainkan penampilan mereka. Ketiga bersaudari Kong itu mengenakan pakaian dari sutra tipis terbaik, dengan bagian dada yang rendah…begitu rendahnya hingga belahan dada mereka terlihat jelas. Bukan hanya itu, rok mereka yang panjang hingga ke mata kaki ternyata juga terbelah hingga ke pangkal paha, menampilkan kaki-kaki mereka yang putih dan panjang.
Yingying belum pernah menjumpai wanita manapun yang berpakaian seperti itu. Yingying membayangkan bagaimana seandainya jika dia berpakaian seperti itu? Ayahnya pasti tidak setuju. Meski Zhang Rui hanya seorang tukang besi pekerja kasar, sejak kecil Yingying selalu didiknya untuk berpenampilan sopan.

Ketiga putri Tuan Kong itu sengaja menata rambut mereka tinggi-tinggi di atas kepala sehingga menonjolkan leher mereka yang jenjang. Si sulung Daqiao bahkan melukis bagian atas alisnya dengan titik-titik berwarna putih. Membuat seolah bagian atas alisnya bertaburan mutiara mungil.

Yang tak dimengerti Yingying, Junqing sepertinya tak merasa aneh dengan penampilan ketiga gadis itu. Sementara Yingying megap-megap karena terpana, Junqing justru biasa-biasa saja – seolah hal demikian sudah sering dilihatnya. Yingying berpikir, pemuda manapun yang melihat ketiga bersaudari Kong ini pasti akan bertekuk lutut. Bukan hanya oleh penampilan - tapi juga karena sikap mereka yang manja dan suara lemah-lembut. Yingying tidak tahu, di belakangnya, ketiga gadis bersaudara itu berbisik-bisik tentangnya.

“Gadis desa yang bersama Junqing ini terkejut melihat penampilan kita, Kakak…” ujar Sanqiao.

“Lihat dandanannya. Polos sekali. Model pakaian yang dikenakannya begitu kuno seperti dari jaman Dinasti Han!” Erqiao terkikik.

“Dia sebetulnya cukup cantik,” Daqiao memandang Yingying lekat-lekat. “Aku tak sabar ingin mengubah penampilannya. Aku sangat penasaran - seperti apa rupa gadis desa ini bila dia didandani seperti kita.”

***
Usai makan malam, orang dewasa berkumpul di ruang tengah untuk bercakap-cakap.

Anak-anak berkelompok di pinggir ruangan. Junqing bermain xiangqi-sejenis catur China, bersama putra Tuan Kong. Anak-anak perempuan menyaksikan dari satu sisi.

Permainan belum berlangsung lama tapi ketiga bersaudari Kong sudah tak berminat mengikutinya.

“Permainan xiangqi sangat membosankan. Sejak dulu aku tidak pernah bisa memainkannya dengan baik,” keluh Sanqiao.

Erqiao mengedipkan mata ke arah Daqiao dan kakaknya itu mengangguk. Erqiao lalu menepuk bahu Yingying yang tengah asyik melihat permainan.

“Xiangqi lebih mengasyikkan bagi anak lelaki. Bagaimana kalau kau ikut bersama kami untuk melihat hal-hal yang disukai anak perempuan?”

“Apa itu?” Yingying bertanya.

“Kau tak bisa melihatnya di sini,” jawab Erqiao. “Ayo, ikutlah bersama kami!”

“Ke mana?”

“Ke kamar kami bertiga.”

Ragu-ragu sesaat, Yingying akhirnya mengikuti saran Erqiao. Keempat gadis itu menyelinap dari ruang tengah lalu menuju kamar ketiga bersaudari tersebut.

Ketika memasuki kamar ketiga gadis, Yingying kembali terpana. Kamar mereka begitu luas. Berbeda sekali dengan kamarnya yang sempit dan gelap di Dusun Wei. Lentera-lentera menyala menyinari kamar terang-benderang. Yingying bisa melihat jelas aneka perabot mewah dalam kamar tersebut. Porselin-porselin, lemari-lemari dari kayu mengkilap serta tiga buah ranjang berukir dengan sutra biru sebagai kelambu.

Ketiga bersaudari itu membiarkan Yingying mengitari kamar mereka dengan penuh kekaguman sementara mereka mempersiapkan segala sesuatu.

“Yingying,” Daqiao memanggil. “Kemarilah.”

Yingying yang tengah mengagumi sebuah kotak tembakau berukir menghampiri Daqiao dan kedua adiknya. Mereka sedang berkumpul di meja rias. Setelah mendekat, Yingying ditarik oleh salah satu gadis dan mereka dengan cekatan mulai melepas pakaian Yingying.

“Hei, kalian mau apa?” Yingying serta-merta protes.

“Kami akan merubah penampilanmu,” ujar Daqiao. Dia berhasil melepas pakaian Yingying hingga teronggok ke lantai. “Kau tahu model pakaianmu ini dari jaman apa? Sebelum Jendral Cao Cao pergi bertempur ke Karang Merah enam ratus tahun lalu, para wanita telah memakai model seperti ini!”

Yingying tidak terlalu siap dengan kejutan ini. Tapi dia juga tak bisa mengelak.

“Wah, bahumu putih dan halus sekali…,” puji Sanqiao. “Jangan kau tutupi dengan gaun birumu yang sederhana itu. Bagaimana kalau…?” Sanqiao memilih-milih beberapa gaun yang tergeletak di samping meja rias. “Kau memakai gaun merah marun ini?”

Mata Yingying terbelalak melihat gaun merah dengan bagian depan yang terbuka begitu lebar. Sebelum dia melayangkan ketidaksetujuannya, Erqiao telah menginterupsi.

“Tidak, tidak! Warna itu tak cocok untuknya. Kulit Yingying seputih gading. Warna merah itu akan memucatkan wajahnya. Ambil yang ini saja!”

Pilihan Erqiao jatuh pada sebuah gaun sutra tipis berwarna kuning dengan hiasan merah pada tepinya. Daqiao juga setuju dengan gaun itu.

Maka, Yinying pun dipakaikan gaun pilihan Erqiao dan Daqiao. Gaun itu tak terbuka pada bagian bahu, tapi rupanya bagian dadanya amat rendah. Daqiao dan Erqiao mengencangkan ikatan sutra di bawah dada hingga Yingying merasa sesak. Yingying mengeluh. Tapi para gadis memaksanya untuk bertahan.

“Kalau tidak diikat seketat ini, kelihatannya akan tidak bagus. Orang harus menderita sedikit supaya tampil cantik.”

Yingying berusaha bicara meski megap-megap, “Kalau ingin cantik… tapi dengan cara tersiksa… seperti ini…lebih baik tak usah…”

“Nanti juga kau akan terbiasa!”

Ketiga gadis menuntun Yingying supaya duduk di depan cermin perunggu yang terpasang di atas meja rias. Mereka melepas jalinan rambut Yingying dan mulai menyisirnya.

“Rambutmu indah dan lebat sekali. Sangat cocok jika disanggul ke atas,” Erqiao berkata seraya menarik seluruh rambut Yingying menjadi satu ke arah belakang.

Tak lama kemudian Yingying merasa kepalanya bergoyang hingga seluruh kulit wajahnya ikut tertarik ke belakang. Yingying merasa rambutnya dipelintir, dijepit, digulung, diikat… Beberapa kali Yingying memekik karena rambutnya ditarik terlalu keras atau ujung jepit yang tajam mengenai kulit kepalanya.

Yingying tak tahan lagi. Kepalanya pusing. Dia sungguh tak nyaman dengan segala huru-hara ini. “Hentikan…,” pintanya. Tapi ketiga bersaudari itu tetap bersemangat menata rambutnya. Akhirnya…

“Cukup!” Yingying berseru dan berdiri mendadak sehingga menjatuhkan beberapa benda dari meja rias. Ketiga gadis Kong terkejut. “Aku tak mau melanjutkan ini lagi!”

“Kenapa? Sebentar lagi selesai dan kau bisa melihat wujudmu yang baru,” kata Erqiao.

“Aku tak mau melihat wujudku yang baru,” balas Yingying bersungut-sungut sambil memungut pakaian yang semula dikenakannya.

Sanqiao berusaha menahannya. “Tapi kami harus menyelesaikan pekerjaan kami. Kau adalah karya kami.”

Yingying telah mengantisipasi. Dia mundur dua langkah dari Sanqiao. “Aku tak mau jadi kelinci percobaan kalian!” dia berkata kesal. Lalu, karena khawatir ketiga bersaudari itu akan menangkapnya kembali, Yingying bergegas menuju pintu dan keluar dari kamar tersebut.

“Jangan dikejar!” kata Daqiao sewaktu Sanqiao hendak menyusul Yingying. “Jika ayah melihat kita dan mengetahui hal ini, kita pasti akan dimarahi.”

Di luar, Yingying berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya sambil menarik segala jepit dan pengikat hingga rambutnya terurai kembali. “Aku takkan pernah mau berdandan seperti ini lagi!” cetusnya. Yingying berjalan terburu-buru dan pada sebuah belokan dia menubruk seseorang.

“Aduh!” seru orang itu. Kemudian… “Yingying?”

Mata Junqing terbelalak melihat Yingying yang di hadapannya. Begitu berbeda dari biasanya. Rambutnya terurai dan sedikit awut-awutan. Dia memakai gaun yang bagus, dengan belahan dada yang begitu rendah…

”Yingying… kau…?” Junqing terbata-bata seperti orang tolol. Yingying keheranan. Bukankah Junqing tidak bereaksi apa-apa melihat ketiga bersaudari Kong berpakaian seperti ini? Tapi kenapa sewaktu Yingying yang mengenakannya, Junqing jadi kelihatan bego?

Yingying mendesah dan melewati Junqing. Tapi dengan cepat Junqing memegang salah satu tangannya dan menariknya kembali. “Yingying, kau…,” Junqing tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya memandang Yingying dari atas ke bawah.

“Aku kenapa?” Yingying mulai tidak sabar. Junqing belum juga mau melepaskan tangannya. Pemuda itu justru menundukkan kepala, semakin dekat dan semakin dekat ke wajah Yingying sampai…

“Ma Junqing! Sadarlah!” Yingying menepuk pipi Junqing keras-keras. Jiwa Junqing yang tadi melayang-layang kini kembali ke tempatnya. “Kau aneh sekali!” tegur Yingying tajam.

Yingying mengibaskan tangannya dari genggaman Junqing dan berlalu dengan kesal. Tinggallah Junqing, yang tertawa sambil menyandarkan punggungnya ke dinding – mencoba menenangkan darahnya yang tadi sempat bergolak.

***
Keesokan harinya, Nyonya Ma dan Nyonya Kong pergi ke kuil Awan Terang. Nyonya Kong mengajak ketiga putrinya dan Nyonya Ma mengajak Yingying.
Yingying mengenakan kembali pakaian yang dijahitnya dari Dusun Wei. Dia mengembalikan pakaian ketiga gadis Kong dan mereka berbaikan lagi. Meski malam sebelumnya Yingying kesal setengah mati pada ketiganya, pagi itu dia memaafkan mereka. Ketiga gadis Kong juga bukan perempuan-perempuan pendendam. Mereka memaklumi sikap Yingying kemarin - tapi tetap menyesali Yingying yang tak membiarkan dandanannya diselesaikan.

Di kuil Awan Terang, setelah selesai membakar dupa dan meletakkan sesajian, para ibu masuk ke ruang doa. Itu adalah sebuah ruangan besar yang tertutup. Nyonya Kong tidak memaksa ketiga putrinya mengikutinya ke ruang doa. Maka, Nyonya Ma pun meninggalkan Yingying bersama ketiga bersaudari Kong.

Tak banyak hal yang bisa dilakukan keempat gadis sementara menunggu para ibu berdoa. Lalu tiba-tiba, muncullah ide Daqiao.

“Lihat keempat pria yang tengah membakar kertas persembahan di sebelah sana,” bisik Daqiao kepada kedua adiknya dan Yingying. Nada bicaranya penuh persekongkolan. “Mereka tampan-tampan dan kelihatannya masih bujangan.”

“Lalu…? Kau mau apa dengan mereka?” Sanqiao pura-pura memasang wajah lugu.

“Tentu saja kita harus manfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan dengan mereka! Siapa tahu mereka tertarik dan bersedia melamar kita jadi istri,” Daqiao menjelaskan. “Sekarang, mari kita lambaikan saputangan kita lalu pura-pura menjatuhkannya agar mereka mengambilnya.”

Yingying tidak mengikuti permainan ketiga bersaudari Kong. “Aku tak membawa saputangan,” dia memberi alasan. Yingying pun mundur dan hanya menyaksikan aksi ketiga bersaudari tersebut.

Taktik Daqiao berhasil. Keempat pemuda itu mendekat dan memungut saputangan mereka yang terjatuh. Sadar kalau salah satu dari pemuda itu pasti tidak punya pasangan sehingga meliriknya, Yingying semakin menarik diri dan bersandar di dinding luar ruang doa.

Nyonya Ma kebetulan keluar sejenak dari ruang doa. Melihat Yingying sendirian, dihampirinya gadis itu.

“Bibi, bisakah aku berkeliling kuil? Aku ingin menjelajahi bagian dalam kuil ini,” kata Yingying kepada Nyonya Ma.

Nyonya Ma tersenyum penuh pengertian terhadap ketidaknyaman Yingying bergaul dengan ketiga bersaudari Kong. Di kejauhan, dilihatnya ketiga gadis Kong yang tengah bercengkerama dengan empat pemuda. Maka, Nyonya Ma berujar,

“Bagian dalam kuil ini sebagian besar adalah asrama para biarawati dan biksuni. Pengunjung pria tidak boleh sembarang masuk. Tapi bagi wanita, kau boleh bebas berkeliling di dalam. Aku dan Nyonya Kong masih beberapa jam lagi di sini. Jadi, pergilah melihat-lihat. Ingat, kami akan menunggumu di sini.”

***
Yingying senang mendapat ijin Nyonya Ma. Dia pun menjelajahi bagian dalam kuil.

Kuil Awan Terang sesungguhnya sebuah kompleks yang cukup besar. Tapi hanya bagian depannya yang ramai oleh pengunjung. Pada bagian dalam suasananya cenderung sepi. Yingying tak melihat satupun pria di sini. Yang ada hanya beberapa orang biksuni dan biarawati yang berjalan tenang serta tertib. Ada pula biarawati yang sedang menyapu dan mengangkat air. Semuanya dilakukan dengan suara seminim mungkin.

Bagian dalam kuil Awan Terang merupakan tempat menarik untuk dijelajahi. Lantai lorong yang berkelok-kelok begitu bersih, taman-taman ditata dengan indah serta samar-samar aroma dupa tercium di udara - membuat Yingying serasa berada di surga kecil. Pada sebuah serambi, Yingying mengagumi lukisan-lukisan dinding dewa-dewi dan para orang suci Buddhis. Dia cukup lama berdiri di situ. Mengagumi serta memeriksa guratan dari lukisan satu ke yang lainnya. Lalu, ketika Yingying berbelok ke sebuah dinding…

Dewi Guanyin seolah berdiri tepat di hadapannya. Memegang daun willow di tangan kanan dan menuangkan air suci dari botol di tangan kiri. Sang dewi terbalut jubah kemuliaannya. Wajahnya memancarkan senyum kepada Yingying.

Yingying terpana. Dia belum pernah melihat lukisan yang sedemikian hidupnya. Apalagi, lukisan itu terpampang di dinding yang pada sisi kanan-kirinya terdapat kolam teratai. Benar-benar kontras sekali.

Yingying mendekat ke lukisan Dewi Guanyin itu dan mengamatinya dengan penuh kekaguman. Sapuan kuas pelukisnya begitu halus. Lukisan itu begitu sempurna.

“Kau mengagumi lukisan itu, Nona?”

Seorang biksuni berbaju abu-abu menegur Yingying. Yingying menatapnya dan sang biksuni tersenyum ramah.

“Ini adalah lukisan terbaik yang ada di kuil ini. Semua orang yang melihatnya pasti berpendapat begitu. Apakah kau pun demikian, Nona?”

“Ya, lukisan ini memang sangat indah,” Yingying bergumam. “Seniman manapun yang membuatnya pasti orang yang luar biasa. Dia tak meninggalkan kesalahan sedikitpun untuk dicela.”

“Kurasa kau perlu menyampaikan pujianmu itu langsung ke pembuatnya, salah satu biarawati di sini.”
Yingying terkejut. “Pembuat lukisan ini tinggal di sini? Dia salah satu biksuni di sini?”

“Sebenarnya Biarawati Huiqing belum benar-benar ditahbiskan sebagai biksuni,” ujar sang biksuni membetulkan. Dilihatnya pancaran mata Yingying yang menyiratkan kekaguman penuh. “Kau ingin bertemu dengannya?”

“Ya! Aku mau! Apakah bisa? Apakah Biarawati Huiqing tidak keberatan jika kutemui?”

“Tentu saja tidak. Biarawati Huiqing selalu bersedia menerima siapa saja berkunjung di pondok bambunya.”

“Apakah anda bersedia menunjukkan jalan?”

“Aku bahkan bersedia mengantarmu ke sana, Nona muda.”

Biksuni berbaju abu-abu itu berjalan di depan diikuti Yingying. Mereka masuk ke kompleks kuil lebih dalam lagi. Semakin dalam, suasana semakin hening dan terpencil. Mereka lalu sampai pada sebuah taman dengan pepohonan rimbun mengelilinginya. Sebuah pondok bambu berdiri tepat di tengah-tengah taman.

“Nah, itu pondok bambunya. Masuklah. Biarawati Huiqing pasti sedang berada di dalam,” usai berkata, biksuni berbaju abu-abu itu kemudian berlalu pergi.

Yingying perlahan-lahan menghampiri pondok bambu. Pintu pondok tengah terbuka. Sesuai saran sang biksuni, Yingying masuk ke dalam. Samar-samar, terdengar suara seorang wanita yang sedang membaca Maha Karuna Dharani.

“Namo Holatana Tola Yeye. Namo Oliye. Polu Chieti Shoupolaye. Puti Sato Poye. Moho Sato Poye. Moho Cialuniciaye. Om…”

Wanita itu berada di ruang dalam. Berlutut di hadapan lukisan kecil Dewi Guanyin yang tergantung di dinding. Ada altar kecil di depannya. Rambutnya hitam tergerai halus, bagian atasnya dikepang kecil. Yingying tak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangi Yingying.

Yingying menunggu hingga wanita itu selesai membaca Maha Karuna Dharani-nya. Meski agak lama, Yingying tetap sabar menunggu.

Wanita itu akhirnya selesai membaca. Dia bersujud tiga kali di hadapan lukisan Dewi Guanyin lalu berdiri. Sewaktu berbalik, pandangannya dan Yingying bertemu. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya beranjali dan berkata,

“Amitabha, aku begitu larut dalam Dharani-ku hingga mengabaikan keberadaan seorang tamu.”

Kalau tadi Yingying terpana oleh lukisan Dewi Guanyin, kini dia terkesima oleh penampilan pelukisnya. Biarawati Huiqing berusia tiga puluhan dan tampak cantik. Yingying berani memastikan kalau di masa mudanya, Biarawati Huiqing pasti seorang wanita yang sangat jelita. Bahkan dalam balutan jubah biara abu-abu, kecantikan Biarawati Huiqing masih terpancar jelas dari wajahnya yang lonjong, kedua mata besarnya, sepasang alis yang menawan, hidung lurus dan bibir penuh. Gerak-geriknya pun begitu anggun.

Wanita secantik ini tidak pantas tinggal di biara. Yingying membayangkan Biarawati Huiqing mengenakan salah satu pakaian pakaian bagus berwarna merah milik Nyonya Ma. Rambutnya yang tergerai ditata seperti wanita-wanita golongan atas. Ya, Biarawati Huiqing lebih pantas menjadi seorang wanita bangsawan ketimbang seorang rahib Buddha. Tapi kenapa dia memilih menjadi biarawati?

“Aku tadi melihat lukisan Dewi Guanyin anda dan begitu mengaguminya. Seorang biksuni lalu mengantarku ke sini untuk menemui anda,” kata Yingying setelah terdiam agak lama.

Biarawati Huiqing tersenyum. “Itu hanya persembahan kecilku kepada Sang Dewi,” ujarnya merendah. “Ah, kita belum berkenalan. Aku Huiqing, memberi salam kepada Nona…”

“Namaku Zhang,” sahut Yingying. Ayahnya selalu mengajarkan cukup menyebut marganya saja saat berkenalan dengan orang asing. “Dan seharusnya akulah yang memberi salam kepada anda, Biksuni.”

“Aku hanya biarawati. Kepalaku belum digunduli, maka kau tak pantas memanggilku Biksuni,” Biarawati Huiqing menjelaskan.

“Baiklah, Biarawati Huiqing,” Yingying ulang memanggil.

Pondok bambu itu terdiri dari tiga ruangan utama. Kamar tamu depan, ruang tengah sekaligus ruang doa serta kamar tidur. Biarawati Huiqing mempersilakan Yingying duduk di ruang tengah. Dia menyeduh teh bagi Yingying dan segera kedua wanita itu terlibat pembicaraan menarik soal lukisan.

“Kau sepertinya memahami seluk-beluk lukisan. Apakah kau pernah belajar melukis pada seorang ahli?” tanya Biarawati Huiqing.

“Tidak...,” jawab Yingying gugup. “Ayahku tidak punya banyak uang untuk membayar seorang guru melukis mengajariku. Memang, dulu ada seseorang yang mengajariku teknik-teknik dasar. Dia guru sekolah di desa kami. Tapi selanjutnya, aku belajar sendiri.”

Biksuni Huiqing mengamati Yingying. “Kelihatannya kau berbakat. Jika kau tinggal lebih lama di sini, aku pasti akan mengajarimu.”
“Sungguh?” mata Yingying berbinar. Dia tak menduga akan diundang menjadi murid Biarawati Huiqing.

“Tapi aku tidak tahu apakah akan tinggal lama di Chang’an. Aku kesini bersama orang lain. Jika mereka memutuskan untuk pulang, aku harus ikut.”

“Rupanya begitu…,” Biarawati Huiqing tertegun sesaat. “Tapi jika kau masih lama di Chang’an,” lanjutnya lagi. “Datanglah ke sini dan temui aku.”

Undangan Biarawati Huiqing begitu ramah dan tulus. Perasaan Yingying terasa hangat mendengarnya. Setelah beberapa jam meninggalkan ruangan doa, Yingying sadar dia harus kembali sebelum Nyonya Ma dan yang lain mencarinya.

“Biarawati Huiqing, aku mohon pamit,” ujar Yingying sambil menghormat kepada Biarawati Huiqing. Biarawati Huiqing membalas hormatnya dan mengantar Yingying sampai ke pintu pondoknya. “Kembalilah lain waktu,” balasnya.

Yingying keluar dari pondok bambu dengan berat hati. Ketika dia telah berjalan agak jauh, dia menoleh lagi ke arah pondok bambu.

Biarawati Huiqing masih berdiri di depan pintu - mengamatinya.

***
Keesokan harinya, Yingying amat gembira. Dia kembali mengunjungi Kuil Awan Terang bersama Nyonya Ma dan Nyonya Kong. Kedua Nyonya itu sepakat mengikuti upacara doa di kuil yang akan berlangsung hingga tanggal lima belas bulan lunar pertama itu.

Ketiga bersaudari jelas-jelas menolak mengunjungi kuil lagi. Artinya, Yingying akan bebas bertemu Biarawati Huiqing selama tujuh hari berturut-turut.

Biarawati Huiqing senang melihat kedatangan Yingying. Terlebih sewaktu dia tahu Yingying akan mengunjunginya hingga tujuh hari ke depan. Keduanya tidak menyia-nyiakan waktu. Biarawati Huiqing langsung mengajari Yingying teknik-teknik melukisnya-termasuk trik memegang kuas dengan benar.

“Pakai perasaanmu ketika memegang kuas. Ini mungkin kelihatannya sepele. Tapi jika perasaanmu tak tahu kapan harus menekan kuas dengan keras dan lembut, goresanmu akan kacau dan tampak tolak-menolak dengan obyek lukisanmu.”

Biarawati Huiqing hanya mengenal Yingying sebagai Nona Zhang. Dia berusaha tidak mengetahui kehidupan murid didiknya terlalu jauh-salah satu di antaranya dengan tidak menanyai nama kecil mereka. Biarawati Huiqing telah mengajar beberapa wanita muda melukis. Dan diam-diam diakuinya kalau Nona Zhang ini salah satu muridnya yang paling istimewa. Dia cepat mengerti serta sangat berbakat.

Beberapa hari belajar bersama Biarawati Huiqing, membuat Yingying begitu dekat dengan wanita itu. Ketika Biarawati Huiqing memberikan instruksi, Yingying bisa dengan jelas memperhatikan mimik wajahnya, kehalusan kulitnya serta jari-jari tangan yang luar biasa sewaktu menggoreskan kuas. Maka, pada malam usai belajar bersama Biarawati Huiqing di hari kedua, Yingying meminta kertas dan peralatan melukis pada Daqiao. Daqiao menyanggupi dengan senang hati.

Jadi, pada siang hari Biarawati Huiqing mengajari Yingying. Malamnya Yingying melukis sang Biarawati. Yingying melukis Biarawati Huiqing tidak dalam jubah abu-abunya – tapi dengan penampilan seperti dalam bayangannya. Seorang wanita cantik dalam pakaian wanita sehari-hari.

Pada hari kelima belas, Yingying berusaha menyerap segala sesuatu yang diajarkan Biarawati Huiqing padanya untuk kali terakhir. Biarawati Huiqing yang selama beberapa hari ini juga agak penasaran dengan Yingying melontarkan pertanyaan,

“Nona Zhang, jujur kukatakan, kau sangat berbakat. Apakah di keluargamu ada pelukis juga?”

Yingying yang saat itu tengah mengamati Biarawati Huiqing terkejut. “Entahlah. Mungkin ibuku…” katanya gugup. “Masalahnya, aku tak pernah bertemu dengannya. Jadi aku tak tahu pasti.”

“Oh,,” Biarawati Huiqing bergumam. “Memangnya, ibumu di mana?”

Yingying baru akan menjawab ketika seorang biksuni muda masuk memberitahu Biarawati Huiqing,

“Biarawati, Jendral Zheng datang menjengukmu.”

Biarawati Huiqing sontak berdiri. Dengan sungkan dia berkata pada Yingying, “Maaf, aku harus menemuinya dulu.”

Yingying mempersilakan. Biarawati Huiqing keluar ke ruang tamu depan dan biksuni muda menurunkan kisi-kisi yang memisahkan antara ruang depan dengan tengah. Tak lama, Yingying melihat seorang pria berperawakan tegap dan tinggi memasuki pondok bambu. Yingying tak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena terhalang kisi-kisi. Tampaknya, pria itu berkumis.

Yingying mendengar dari biksuni yang mengantarnya ke pondok bambu tempo hari, kalau bagian dalam kuil Awan Terang ini hanya dimasuki dua pria. Keduanya merupakan penderma utama kuil ini dan selalu pasti mendatangi pondok bambu jika berkunjung. Satu adalah saudara lelaki Biarawati Huiqing. Satunya lagi adalah temannya-seorang Jendral.

“Biarawati Huiqing, bagaimana kabarmu? Apakah kau sehat?” tanya Jendral Zheng. Mengejutkan bagi Yingying, sang Jendral bicara lemah-lembut dengan suara beratnya.

“Ya, aku baik dan sehat-sehat saja,” jawab Biarawati Huiqing.

“Musim dingin kemarin apakah kau mengenakan pakaian cukup hangat?”

“Aku telah terbiasa bertahan dengan jubah biaraku ini, Jendral.”

“Tapi musim dingin kemarin udara cukup menggigit tulang. Aku khawatir kau sakit terserang hawa dingin.”

“Syukurlah tidak, Jendral.”

Jendral Zheng bertanya penuh perhatian dan penuh kelembutan membuat Yingying curiga. Dengan intonasi semacam itu, sang Jendral seolah tidak sedang bicara dengan teman lamanya – tapi lebih kepada kekasihnya!

Sang Jendral duduk di samping Biarawati Huiqing. Tangan sang Biarawati tertelungkup di atas meja. Dan Yingying melihat, dari balik kisi-kisi, Jendral Zheng mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan sang Biarawati!

Biarawati Huiqing buru-buru menarik tangannya. Jendral Zheng salah tingkah. Dia memalingkan wajah ke arah kisi-kisi dan dengan cepat Yingying menundukkan kepala.

“Sepertinya kau sedang punya murid lagi,” kata Jendral Zheng.

“Ya, dia muridku dari luar kota Chang’an.”

Sepanjang percakapan, Jendral Zhenglah yang selalu memulai. Biarawati Huiqing hanya membalas seperlunya. Setelah duduk dan berbicara selama setengah jam, sang Jendral pun pergi. Kisi-kisi diangkat kembali. Biarawati Huiqing kembali ke ruang tengah dengan wajah murung. Sepertinya dia tak terlalu bahagia berjumpa dengan sang Jendral. Dia bahkan lupa kalau Yingying belum menjawab pertanyaannya tadi. Yingying jadi bertanya-tanya, seperti apakah pertemanan antara Biarawati Huiqing dengan Jendral Zheng dulu?

***
Malamnya, semua orang keluar rumah untuk menikmati pesta lampion di jalan-jalan kota Chang’an. Yingying menolak ikut karena dia harus menyelesaikan lukisan Biarawati Huiqing seperti dalam benaknya.

Ma Junqing agak kesal karena Yingying tidak ikut melihat lampion. Padahal selama beberapa hari belakangan, dia telah membayangkan berjalan berdua bersama Yingying di bawah cahaya lampion malam purnama. Yingying tak berhasil diyakinkan siapapun - termasuk oleh ayahnya, Zhang Rui. Maka, Yingying pun ditinggal di kamarnya untuk menyelesaikan lukisannya.

Lukisan Yingying selesai menjelang tengah malam. Lukisan itu telah diwarnai dan tinggal menunggu catnya kering. Yingying mengagumi lukisannnya dengan puas. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi letusan kembang api berdentum.

Yingying membuka jendela kamarnya dan melihat keluar. Kembang api meluncur memenuhi langit malam kota Chang’an. Bunyinya berdentum keras mendebarkan hati. Cahayanya berkelap-kelip di langit malam. Ketika beberapa kembang api melayang cukup tinggi di angkasa, Yingying tiba-tiba berpikir tentang ibunya.

“Seandainya aku bertemu dengan ibu, seperti apakah rupanya kira-kira?”

Kembang api yang melayang di angkasa itu berdentum keras dan mekar menjadi percikan-percikan bunga merah besar sekali.

“Aku berdoa semoga dia mirip dengan sang Biarawati!”

Kembang api lainnya juga menyusul berdentum. Sahut-menyahut. Mekar silih-berganti dengan warna-warni merah, kuning, hijau dan biru. Cahayanya berkilauan memantul ke wajah Yingying.

***
Seluruh orang baru kembali ke rumah Keluarga Kong menjelang pukul satu malam. Zhang Rui menjenguk Yingying di kamarnya. Didapatinya Yingying tengah duduk tertidur dengan kepala tertelungkup di atas meja.

Zhang Rui tidak bermaksud membangunkan Yingying. Dia menarik selimut dari ranjang dan menyampirkannya ke punggung putrinya itu. Ketika hendak mematikan lilin dalam lentera, dilihatnya lukisan Yingying terpampang di atas meja. Zhang Rui terkejut.

Wanita yang sudah lama dalam pikiran Zhang Rui seolah menjelma dalam lukisan itu. Yingying melukisnya dengan ciri-ciri yang sama persis dalam benak Zhang Rui. Bentuk wajahnya yang lonjong, mata yang besar, hidung lurus dan bibir penuh.

Zhang Rui mengangkat lukisan itu dan melihatnya dengan menganga. Dimana… dimana Yingying pernah melihat wanita ini? Hati Zhang Rui berdegup kencang. Bahkan setelah enam belas tahun berlalu, jantungnya masih bisa berdebar-debar hanya dengan memandangi lukisan wanita itu!

Zhang Rui mengamati Yingying yang sedang tertidur pulas. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu fajar tiba dan menanyai putrinya itu. Seandainya Yingying tahu wanita yang dilukisnya menyerupai siapa, pikir Zhang Rui. Siapkah aku menghadapi reaksinya?

***
Subuh menjelang dan Yingying terbangun dari tidurnya. Dia menegakkan tubuh dan merasa punggungnya sakit. Rupanya usai melihat pesta kembang api semalam, Yingying tertidur di atas meja hingga pagi.

Selimutnya terjatuh. Melihat selimut itu, Yingying yakin kalau ayahnya telah memasuki kamar semalam dan menyelimutinya. Yingying bangkit dari kursi dan memungut selimut tersebut. Ketika berbalik, dilihatnya Zhang Rui tengah tertidur di kursi. Kepalanya bersandar pada salah satu tangannya dan lukisan Yingying terhampar di pangkuannya.

“Ayah…?” panggil Yingying. ”Ayah?”

Tidur Zhang Rui tak lelap. Matanya segera terbuka begitu dipanggil Yingying. Dia mengusap wajahnya dan menarik napas dalam-dalam.

“Ayah, mengapa kau tidur di sini?” tanya Yingying keheranan.

Zhang Rui berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Yingying. “Karena ini…,” katanya kemudian seraya mengangkat lukisan Yingying. “Katakan padaku, dimana kau pernah bertemu wanita dalam lukisan ini?”

Kening Yingying berkerut. “Dia Biarawati yang mengajariku melukis di Kuil Awan Terang, Ayah.”

“Biarawati Huiqing?” Zhang Rui teringat kalau selama beberapa hari ini Yingying selalu menyebut nama itu.

“Kukira dia seorang biarawati – mengapa kamu melukisnya seperti ini?”

Yingying khawatir ditegur Zhang Rui karena melukis seorang biarawati tidak dalam pakaian biaranya. “Aku… aku melukis penampilan Biarawati Huiqing seperti dalam benakku. Menurutku… dia lebih cocok berpenampilan seperti itu…” Yingying menunduk merasa bersalah.

“Apakah dia tahu namamu?” tanya Zhang Rui lagi.

“Tidak, dia hanya mengenalku sebagai Nona Zhang.”

“Apakah dia pernah menanyaimu tentang keluarga kita? Tentang orang tuamu atau siapa kira-kira yang menurunkan bakat melukis padamu?”

“Ya… Kemarin Biarawati Huiqing sempat menanyakan itu. Kujawab mungkin aku mewarisi bakat melukis ibu. Tapi aku tak tahu pasti karena tidak pernah bertemu ibu. Biarawati Huiqing bertanya lagi tentang keberadaan ibu. Aku tak sempat menjawab- karena di saat bersamaan dia kedatangan tamu.”

Zhang Rui tertegun sesaat. Dia lalu berkata kepada Yingying,

“Bawa aku menemui Biarawati Huiqing ini. Aku harus menemuinya!”

***
Sepanjang perjalanan ke kuil Awan Terang pagi itu, merupakan saat menegangkan bagi Yingying.

Zhang Rui duduk dalam kereta tak berbicara sepatah katapun. Lukisan Yingying tergulung dalam pegangannya. Nyonya Ma juga ada dalam kereta. Dia pergi ke kuil Awan Terang untuk memberi persembahan terakhir sebelum pulang ke Dusun Wei besok. Yang membuatnya heran hari itu adalah mendadak Zhang Rui ikut dan ingin menemui Biarawati yang mengajar Yingying melukis. Wajah Zhang Rui keruh sekali pagi itu. Pikirannya seolah sibuk entah oleh hal apa. Yingying yang duduk di sampingnya tampak penasaran sekaligus was-was. Sesekali melirik ayahnya tapi tak berani bertanya apa-apa. Melihat kedua ayah-anak itu, Nyonya Ma hanya bisa menunggu hal apa yang akan terjadi nanti.

Sesampainya di kuil Awan Terang, Zhang Rui mendesak Yingying agar segera membawanya menemui sang Biarawati.

“Kurasa kita harus meminta ijin dulu Ayah,” ujar Yingying. “Pria tidak boleh sembarangan memasuki bagian dalam kuil ini.”

Tapi Zhang Rui mendesak. Tak sabar dengan penjelasan Yingying dan Nyonya Ma, Zhang Rui bahkan menerobos masuk.

Beberapa biarawati dan biksuni mencegat Zhang Rui. “Tuan, Anda tak bisa masuk tanpa ijin khusus dari kepala biara.”

“Kalau begitu bawa aku menemui kepala biara sekarang agar aku diijinkan menemui Biarawati Huiqing di ruangannya!”

“Tak perlu jauh-jauh, Tuan. Aku telah berada di sini!”

Suara lembut seorang wanita berasal dari belakang Zhang Rui. Yingying dan Nyonya Ma berbalik. Rupanya dia biksuni yang mengantar Yingying menemui Biarawati Huiqing tempo hari.

“Aku kepala biara di kuil ini. Tuan, kau tergesa-gesa hendak menemui Biarawati Huiqing untuk berterima kasih karena dia telah mengajari putrimu melukis?”

“Ya…,” jawab Zhang Rui lirih. Kepala biara tahu kalau itu bukan jawaban sebenarnya. Tapi melihat Zhang Rui yang nyaris putus asa oleh penasarannya, dia tidak bertanya lebih jauh lagi.

“Kalau begitu, mari kuantar menemuinya,” sahut kepala biara.

Para biarawati dan biksuni yang tadinya menghalangi Zhang Rui kini membuka jalan. Kepala biara melangkah masuk ke dalam kuil diikuti Zhang Rui, Yingying dan Nyonya Ma. Mereka melewati aula-aula serta dinding-dinding berlukis. Termasuk salah satunya lukisan dinding Dewi Guanyin karya Biarawati Huiqing. Jika kemarin-kemarin Yingying pasti akan singgah sebentar untuk mengagumi lukisan itu, hari ini dia terlalu tegang hingga melewatinya begitu saja.

Keempatnya telah tiba di pondok bambu. Kepala biara memasuki pondok bambu dan mendapati Biarawati Huiqing sedang membaca Maha Karuna Dharani dengan tekun.

“Biarawati Huiqing,” panggil kepala biara. Sang Biarawati langsung berhenti membaca dan menoleh kea rah kepala biara.

“Maafkan karena aku memutuskan bacaanmu. Tapi seseorang mendesak harus bertemu denganmu sekarang.”

Biarawati keluar dari ruang doanya dan di ruang tamu depan pondok bambunya, dilihatnya Yingying berdiri resah.

“Nona Zhang?” Biarawati Huiqing keheranan. Biasanya gadis itu selalu sabar menunggunya selesai membaca dharani. Hari ini, apa gerangan yang membuatnya tak bisa menunda?

“Biarawati Huiqing… Ayahku… ayahku ingin bertemu denganmu,” kata Yingying terbata-bata.

Yingying baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika Zhang Rui masuk ke dalam pondok bambu. Dan Biarawati Huiqing langsung membelalak melihat Zhang Rui. Dia amat terkejut hingga membekap mulutnya sendiri.

Biarawati Huiqing seperti melihat hantu. Hantu yang telah lama tidak ditemuinya. Kakinya lemas. Dia merasa akan jatuh jika seandainya tidak segera berpegangan erat pada sebuah meja.

“Ziwei,” panggil Zhang Rui pedih. “Kau masih mengenalku?”

Biarawati Huiqing menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya. Tangannya gemetaran dan dia mulai terisak.

Yingying terpana memandang Zhang Rui dan Biarawati Huiqing bergantian.

“Ayah, kau dan Biarawati Huiqing… Kalian saling kenal?”

Zhang Rui menarik napas dalam-dalam. Dia mengacungkan gulungan lukisan Yingying ke arah Biarawati Huiqing.

“Wanita ini…,” ujar Zhang Rui. ”Wanita ini adalah Ibumu.”


Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar