Welcome to my world

Segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China tertuang di sini.

Sabtu, 01 Mei 2010

The Painter Lady (1): Teka-Teki Masa Silam


China. Dinasti Tang.
Tahun ke-2 pemerintahan Kaisar Zhongzhong. Tahun 684 Masehi.

Di kaki pegunungan Qinling terdapat sebuah desa kecil berma Dusun Wei. Konon pada masa Tiga Negara, jendral legendaries Cao Cao dari negara Wei pernah singgah di sini usai bertempur melawan pasukan Yuan Xiao. Itu sebabnya, dusun ini diberi nama sesuai dengan negara asal sang jendral.

Karena terletak di kaki gunung, Dusun Wei dan desa-desa sekitarnya memiliki pemandangan indah khas panorama pegunungan. Hutan-hutannya rimbun. Hawanya sejuk sekalipun di musim panas. Namun di musim dingin, bisa jadi amat dingin hingga membekukan tulang.

Jumlah penduduk di Dusun Wei tergolong sedikit. Mereka mengenal satu sama lain. Wanita ini adalah istri keluarga mana. Anak itu adalah putra keluarga anu. Meski demikian, tidak semua orang mengetahui asal-usul tiap-tiap keluarga yang tinggal di Dusun Wei.

Di Dusun Wei ini pulalah seorang gadis bernama Yingying tinggal bersama ayahnya, Zhang Rui. Keahlian utama Zhang Rui menempa besi. Itu sebabnya dia dikenal dengan sebutan ‘Si Pandai Besi Zhang Rui’. Zhang Rui biasa membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian. Dia juga membuat senjata seperti pedang, golok atau mata panah. Begitu pula beberapa peralatan rumah tangga. Sekali-kali, Zhang Rui menerima pesanan membuat cermin perunggu.

Berbeda dengan ayahnya yang bertubuh gelap, berotot dan bertangan kasar karena seringnya bekerja berat. Yingying yang berusia lima belas tahun justru seorang gadis elok. Tubuhnya langsing-semampai, berkulit putih dengan jari-jari lentik dan cekatan – terutama sewaktu menggoreskan kuas ke atas kanvas.

Yingying seorang gadis pelukis. Dia bisa langsung menggoreskan kuasnya di atas kertas usai melihat obyek hanya dengan sekali pandang saja. Yingying tak tahu pasti dari mana dia memperoleh bakat itu. Yang jelas bukan dari Ayahnya. Zhang Rui memang memiliki keahlian menempa besi dan sedikit kemampuan mengukir – tapi dia sama sekali tak bisa melukis. Dia bahkan tak bisa memegang kuas dengan benar untuk menulis namanya sendiri. Selain itu, Zhang Rui hanya mengenal sedikit sekali huruf. Dia selalu kesulitan apabila diminta membaca atau menulis.

Mungkin bakat melukis Yingying diperoleh dari ibunya. Yingying tak bisa mengetahui pasti. Dia tak pernah mengenal ibunya. Sejak pertama kali otaknya bisa merekam kenangan, yang diingat Yingying hanya dia dan ayahnya. Ibunya entah dimana. Ayahnya yang pendiam pun selalu enggan berbicara mengenai sang ibu.

Apakah ayahnya membenci ibunya? Sepertinya tidak. Justru sebaliknya. Ayahnya memendam perasaan yang sangat dalam terhadap ibunya. Yingying bisa merasakan, setiap kali menyinggung soal ibunya, mata ayahnya akan melembut lalu menerawang. Pada sepasang mata itu Yingying melihat pancaran cinta-kasih sekaligus pula kepedihan. Sebenarnya apa yang membuat ayahnya sedih jika Yingying mengungkit soal ibunya? Yingying ingin tahu. Tapi Zhang Rui tetap bungkam.

Bakat melukis Yingying telah terlihat sejak kecil. Dia gemar menggambar-gambar di atas tanah dengan sebatang ranting. Zhang Rui tidak pernah melarang atau mencegah bakat putrinya itu. Namun yang paling mendorong Yingying untuk terus belajar melukis adalah mantan guru sekolahnya, Guru Qi dan tetangganya, keluarga Ma.

Guru Qi adalah orang pertama yang menyadari bakat Yingying setelah Zhang Rui. Dia mengajar Yingying baca-tulis pada usia enam tahun. Dilihatnya Yingying sangat cermat, tulisannya rapi dan lebih indah daripada tulisan anak lelaki. Belakangan Yingying mulai menggambar-gambar di atas kertasnya. Anak ini sadar akan keindahan, pikir Guru Qi. Maka, dengan sedikit teknik melukis yang dikuasainya, Guru Qi mengajari Yingying. Dan akhirnya, Yingying bisa mengembangkan teknik melukisnya sendiri menjadi lebih baik.

Orang lain yang mendukung bakat Yingying adalah keluarga Ma. Keluarga Ma merupakan tetangga Yingying yang rumahnya tepat bersebelahan dengan bengkel besi ayahnya. Kepala keluarganya, Tuan Ma, kadang-kadang memberi Yingying oleh-oleh: kertas, kuas, tinta dan pewarna apabila dia baru kembali dari perjalanan dagangnya di ibukota Chang’an. Sebenarnya, Tuan Ma ingin lebih sering memberikan alat-alat melukis kepada Yingying. Hanya saja, dia khawatir akan menyinggung perasaan ayah Yingying. Setelah hidup bertetangga belasan tahun, Tuan Ma mengenal sosok Zhang Rui sebagai pria teguh yang enggan menerima belas kasihan orang lain sekalipun kehidupannya sulit. Dan itu diterapkannya pula kepada putri semata wayangnya.

***
“Bibi, aku membawa selada pesananmu.”

“Taruh saja di situ!” Nyonya Ma berseru seraya buru-buru keluar menengok ke suara si pemberi selada. Yingying tengah merendam akar-akar seladanya ke dalam baskom kayu berisi sedikit air.

Bagaimana gadis itu tampak semakin cantik dari hari ke hari? Nyonya Ma mengamati Yingying. Hatinya terasa hangat bagai memandang putrinya sendiri. Gadis itu tetap terlihat cantik meski dalam balutan pakaian sederhana yang warnanya telah kusam. Rambutnya tidak kalah indahnya dari gadis-gadis lain-meski bagian atasnya hanya dikepang sedikit dan sisanya dibiarkan tergerai tanpa pita-pita sutra atau perhiasan mutiara.

Nyonya Ma mengingat beberapa perhiasan yang dulu dikenakannya ketika masih gadis. Perhiasan-perhiasan itu kini tersimpan begitu saja dalam kotak. Dia tak memiliki anak perempuan untuk diberikan perhiasan-perhiasan tersebut.

“Yingying,” Nyonya Ma menghampiri. “Aku punya sebuah jepit rambut dengan bandul mutiara. Dulu kukenakan ketika seusiamu. Sekarang, daripada kusimpan saja karena sudah tak cocok dengan usiaku, bagaimana jika kuberikan padamu?”

Mata Yingying berbinar sesaat. Tapi kemudian redup lagi.

“Tidak usah, Bibi. Aku tak memerlukannya,” Yingying menolak.

“Kau khawatir ketahuan Ayahmu? Kau tak perlu langsung mengenakannya sekarang. Simpan saja dulu. Tunggu setelah beberapa hari baru kau pakai. Anak perempuan memang sudah sewajarnya bersolek.”

“Tapi Ayah pasti akan tahu. Dia tidak pernah melihatku memiliki atau membeli benda-benda seperti itu sebelumnya. Aku tahu maksud Bibi baik. Tapi aku juga harus menghormati ajaran Ayah untuk tidak sering-sering menerima pemberian orang lain.”

Nyonya Ma mendesah. Dia telah sering mendengar dari suaminya kalau tetangga mereka, si pandai besi Zhang Rui orang yang berpendirian teguh. Dia tak pernah bergantung pada belas kasih orang lain dan lebih memilih hidup dalam kesederhanaan bersama putrinya.

“Aku pulang sekarang. Jika Bibi masih membutuhkan selada, katakan saja. Akan kupetikkan untukmu,” ujar Yingying.

Nyonya Ma mengangguk. “Baik. Akan kuberi tahu. Entah mengapa ulat-ulat itu begitu menyukai selada-selada yang ada di kebunku dan memakan semuanya hingga rusak,” keluhnya.

Yingying tersenyum prihatin. Dia berjalan kembali ke rumahnya. Nyonya Ma melihat gaun Yingying yang telah pendek hingga menyembulkan sepatunya. Tuan Zhang semestinya membeli kain untuk baju baru Yingying, pikir Nyonya Ma. Pada saat Nyonya Ma sedang merenung soal pakaian Yingying itu, terdengarlah sebuah seruan,

“Yingying! Tunggu aku! Aku mau ke rumahmu juga!”

Nyonya Ma berbalik. Dengan mata membelalak melihat putranya, Junqing, melesat dari ruang dalam dan mengejar Yingying seperti anak panah.

“Junqing, bisakah kau tak berteriak memanggil Yingying?” tegur Nyonya Ma.

Junqing berhenti sebentar dan berkata pada ibunya, “Karena kalau aku tidak berteriak, dia akan meninggalkanku.”

Junqing kembali mengejar Yingying dan lagi-lagi berteriak, “Yingying! Tunggu aku!”

***
Ma Junqing hanya tiga bulan lebih tua dari Yingying.

Rasanya baru kemarin Nyonya Ma melahirkan Junqing. Dia mencarikan seorang ibu susu bagi putra semata wayangnya itu. Dan putranya tumbuh dengan cepat serta sehat. Lalu, pada suatu pagi ketika Junqing berusia tiga bulan, Nyonya Ma bersama pelayannya melihat seorang pria berpenampilan lusuh bersandar pada salah satu tembok rumah mereka.

Pria itu bukan penduduk Dusun Wei. Dia juga belum pernah terlihat sebelumnya. Sepertinya pria itu telah menempuh perjalanan jauh. Wajahnya terlihat letih, dengan noda debu menutupi seluruh wajahnya. Pria itu kurus. Mungkin dia makan seadanya selama perjalanan. Nyonya Ma merasa iba. Terlebih ketika dia melihat pria itu tengah menggendong sesuatu… yang ternyata adalah bayi!

Pria itu menghindari kontak mata dengan Nyonya Ma maupun pelayannya. Dia juga beringsut ketika didekati. Nyonya Ma menyimpulkan, saat ini pria itu tak ingin dihampiri siapa pun. Mungkin dia hanya pengembara yang singgah sebentar di Dusun Wei. Dia kelelahan dan beristirahat selama beberapa jam saja di situ. Nyonya Ma merasa perlu menghargai keputusan pria itu. Walau begitu, dia tak menutup kebaikannya jika si pria meminta tolong untuk diberi sedikit makanan atau tempat berteduh yang lebih layak.

Nyonya Ma seorang wanita saleh. Suaminya, Tuan Ma, orang terkaya di Dusun Wei. Leluhur suaminya merupakan pejabat pada masa Dinasti Han. Dan setelah Dinasti Han runtuh, mereka memilih Dusun Wei sebagai tempat tinggal. Keluarga Ma adalah tuan tanah karena nyaris seluruh sawah beserta ladang di Dusun Wei merupakan milik mereka. Keluarga Ma menyewakan tanah-tanah mereka kepada petani penggarap dan menerima seperempat dari hasil panen. Selain memiliki berhektar-hektar tanah, Tuan Ma yang sekarang juga berdagang. Dia biasa melakukan perjalanan ke ibukota Chang’an beberapa bulan sekali untuk menjual hasil panen para petani lalu kembali membawa beberapa barang yang tidak terdapat di Dusun Wei semisal besi, kain dan alat-alat belajar.

Kembali ke pria asing yang dilihat Nyonya Ma dan pelayannya pagi itu. Tak seorang pun mengusiknya. Pria itu dibiarkan beristirahat di samping dinding rumah sesukanya lalu pergi setelahnya. Tapi, menjelang sore, Nyonya Ma mendengar suara bayi menangis. Tangisannya cukup keras dan lama. Maka, bersama pelayannya, Nyonya Ma menjenguk ke tempat pria asing tadi.

Pria itu masih berada di tempat yang sama dengan pagi tadi. Tapi kali ini dia mengayun-ayunkan bayinya dengan gelisah. Tak henti-hentinya dia membujuk,

“Yingying, berhentilah menangis. Kau kenapa, Nak? Ayah tak bisa mendapatkan apa-apa lagi selain semangkuk air bagimu. Kita tidak memiliki beras sehingga ayah belum bisa memasak air bubur buatmu….”

“Kau tak bisa memberi bayimu air bubur, Tuan. Dia masih terlalu kecil untuk mencernanya,” sela Nyonya Ma.

Nyonya Ma dan pelayannya menghampiri pria itu. Pertanda baik, pria itu tak menghindar seperti pagi tadi. Mungkin karena dia benar-benar telah kewalahan dan membutuhkan pertolongan.

“Aku punya putra yang berusia tiga bulan,” kata Nyonya Ma. “Dan dia punya ibu susu yang menyusuinya. Jika kau tidak keberatan bayimu kutolong, biarkanlah dia disusui sebentar oleh ibu susu putraku.”

Pria itu menurut. Dia menyerahkan bayinya kepada pelayan Nyonya Ma yang kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. Ketika disusui oleh ibu susu putranya, Nyonya Ma melihat bayi pria itu perempuan dan usianya sekitar sebulan. Bayi malang itu kelaparan. Itu sebabnya tangisannya demikian keras. Dia kurus dan kulitnya berkerut-kerut.

Usai disusui, bayi itu dikembalikan kepada ayahnya. Kebetulan pada saat bersamaan Tuan Ma muncul. Melihat pria itu dan bayinya, Tuan Ma menawarkan tempat menginap. Awalnya pria itu menolak tapi Tuan Ma mengingatkannya akan kondisi bayinya.

“Cuaca malam di daerah pegunungan seperti ini tak baik bagi kesehatan bayimu jika kalian tetap berada di luar rumah. Kalau kau tak memperhatikan dirimu, setidaknya, kau harus mengingat bayimu.”

Pria itu akhirnya bersedia menginap di rumah keluarga Ma. Tapi dia menolak tinggal di salah satu kamar. Pria itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Zhang Rui, malah memilih gudang jerami sebagai tempat menginap bersama bayinya. Meski tamunya ‘hanya’ menginap di gudang jerami, Tuan Ma berusaha memperlakukannya dengan baik. Dia memberi selimut dan makanan kepada Zhang Rui.

Keesokan harinya, ketika ditemui Tuan Ma, Zhang Rui mengutarakan keinginannya untuk menetap di desa itu.

“Apakah Tuan tahu tempat dimana aku bisa tinggal? Sekalipun hanya berupa gubuk, itu tak masalah bagiku.”

Tuan Ma berpikir sejenak lalu berkata, “Di samping rumahku ada sebuah bengkel besi yang dulu ditinggali si Tua Li. Si Tua Li sudah lama meninggal dan anak-anaknya yang tinggal di kota lain sama sekali tak tertarik dengan bengkel kecil itu. Jika kau tak keberatan dengan rumah tua kotor dengan beberapa perabot usang di dalamnya, kau boleh mempertimbangkan rumah si Tua Li.”

“Aku mau!” ujar Zhang Rui tanpa pikir panjang. “Kebetulan aku juga seorang tukang besi.” Zhang Rui memperlihatkan sebuah tas kain berisi perlengkapan bertukangnya.

Tuan Ma mengantar Zhang Rui melihat rumah si Tua Li. Dan Zhang Rui tidak pernah menyesal memilih rumah itu. Meski hanya memiliki tiga ruangan kecil-kecil dan sempit. Meski segala isi dalam rumah itu kotor dan berdebu. Dan meski atapnya bocor di sana-sini. Dengan segala kekurangannya, rumah si Tua Li berusaha ramah menyambut penghuni barunya.

Demikianlah kisah awal Zhang Rui dan Yingying menetap di Dusun Wei.

***
Zhang Rui telah menetap di Dusun Wei sepanjang usia putrinya, Yingying.

Belasan tahun tinggal di Dusun Wei membuat Zhang Rui telah menjadi bagian dari desa terpencil itu. Dia dan para penduduk lain saling mengenal satu sama lain. Keluarga Ma tetap menjadi tetangga terdekat sekaligus kawan paling baik bagi Zhang Rui. Mereka tak segan membantu Zhang Rui dan Yingying sampai-sampai, Zhang Ying merasa sungkan dengan kebaikan mereka.

Zhang Rui membesarkan Yingying sendirian. Tapi untuk beberapa hal menyangkut masalah wanita, Zhang Rui masih harus meminta tolong Nyonya Ma atau beberapa pelayan wanitanya mengurus Yingying.

Orang-orang di Dusun Wei menganggap Zhang Rui seorang duda. Dan Zhang Rui membiarkan mereka berpendapat demikian. Dia tak pernah dengan jelas mengatakan apakah istrinya masih hidup atau sudah meninggal. Ketika Yingying masih kecil, Tuan dan Nyonya Ma pernah mengusulkan agar Zhang Rui menikah - supaya ada wanita yang mengurus rumah serta putrinya. Tapi hal itu ditolak Zhang Rui.

Karena tak bisa baca-tulis dengan baik, Zhang Rui tak mampu mengajar Yingying mengenal huruf. Yingying akhirnya masuk ‘sekolah’ bersama Junqing, putra tunggal Tuan Ma. Di sana, sejak usia enam tahun, Yingying diajari Guru Qi membaca, menulis, serta pengetahuan umum lainnya. Guru Qi mengajar Yingying sampai usia sebelas tahun. Setelahnya, seperti anak-anak perempuan lainnya di Dusun Wei, Yingying mulai dipingit di rumah.

Meski dipingit, Yingying masih bisa keluar rumah jika dia menginginkan. Dan berbeda dengan gadis lain yang pergaulannya dengan anak lelaki telah dibatasi, Yingying justru masih sering bertemu Junqing. Hal ini sulit dihindari. Pertama, rumah keduanya bersebelahan. Kedua, mereka sebaya dan sejak kecil telah sering bersama sehingga begitu akrabnya…

Ketika kecil, Junqing senang menggoda Yingying. Nyonya Ma sering memergokinya memakan permen atau apapun penganan yang dipegang Yingying.

“Junqing, mengapa kau memakan permen Yingying padahal permenmu masih ada?”

“Hm, itu karena permen Yingying terlihat lebih enak dari punyaku.”

“Junqing, kenapa kau selalu merebut kue Yingying padahal kau juga punya kue sendiri?”

Junqing menjawab, “Entahlah! Aku selalu merasa apa-apa yang telah dipegang Yingying selalu lebih baik dari punyaku.”

Nyonya Ma selalu tertawa apabila mendengar jawaban Junqing demikian. “Lihatlah,” katanya kepada Tuan Ma dan Zhang Rui. “Kedua anak ini seperti Bocah Emas dan Gadis Giok. Dua-duanya merupakan perpaduan yang serasi dan harmonis.”

Bocah Emas dan Gadis Giok merupakan dua anak pendamping bodhisatva dalam legenda Buddhis China. Keduanya sering digambarkan berada di kedua sisi Dewi Guanyin.

Tuan Ma ikut tertawa dan berkata kepada Zhang Rui, “Ketika kecil mereka telah akrab seperti ini, tentunya setelah dewasa tak sulit bagi mereka untuk menjadi pasangan yang serasi.”

Zhang Rui menangkap maksud lain dari perkataan Tuan Ma. Tapi dia menyimpannya dalam hati. Ketika Junqing dan Yingying berusia dua belas tahun, pada suatu kesempatan Nyonya Ma mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Yingying sebagai calon istri Junqing.

“Usia Junqing dan Yingying masih amat muda. Terlalu dini untuk membicarakan masalah perjodohan mereka,” tolak Zhang Rui halus.

“Tapi aku pun dijodohkan dengan suamiku ketika usia kami masih sangat belia, Tuan Zhang. Sebagai orang tua bukankah lebih baik apabila menetapkan urusan pernikahan putra-putri kita sekarang?”

“Aku rasa tak perlu tergesa-gesa. Aku pikir lebih baik jika kelak Yingying menentukan pilihannya sendiri.”

“Kau akan membiarkan putrimu memilih calon suaminya sendiri?” Nyonya Ma mengangkat alis karena hal semacam itu tidak lumrah di masa itu.

“Ya, bila saatnya tiba… Kita lihat saja nanti,” jawab Zhang Rui mengambang.

Kini, usia Yingying dan Junqing lima belas tahun. Zhang Rui menyadari kalau putrinya tumbuh sebagai gadis cantik meski penampilannya senantiasa sederhana. Dan Junqing si anak tetangga menjelma menjadi pemuda rupawan yang jangkung, senantiasa mengikuti Yingying kemana-mana. Seperti siang itu, ketika Yingying usai mengantar selada ke Nyonya Ma dan bersiap pergi lagi sambil membawa buku sketsa dan kuas menggambarnya.

“Kau akan pergi ke mana?” tanya Zhang Rui di sela-sela memukul besi panas yang baru ditariknya keluar dari bara api.

“Aku akan ke puncak sebelah timur. Di sana pada bulan begini akan ada pemandangan menarik berupa awan-awan menyelimuti puncak pegunungan. Panorama yang sangat menarik untuk dilukis, Ayah.”

Zhang Rui tahu putrinya tak pernah berbohong tentang kemana dia akan pergi. Tapi melihat Junqing yang tengah menunggunya di depan membuat Zhang Rui agak resah.

“Kau akan pergi bersama anak itu lagi?” Zhang Rui menunjuk Junqing di kejauhan.

“Ya…,” jawab Yingying. Dia menangkap keganjilan pada pertanyaan ayahnya. “Ada apa? Sepertinya Ayah mendadak tak suka aku pergi bersama Junqing.”

Zhang Rui berdehem sejenak lalu melanjutkan menempa besinya kembali. “Kalian sudah bukan kanak-kanak lagi. Dia lelaki dan kau perempuan. Tak baik bila terlalu sering terlihat bersama.”

Yingying terdiam sejenak kemudian tersenyum. Dia mendekati Zhang Rui seraya berbisik manja, “Ayah khawatir dia menyukaiku?”

Zhang Rui berhenti menempa besi dan menatap putrinya dengan pandangan serius membuat Yingying tertawa.

“Ayah tak perlu khawatir. Ma Junqing tidak pernah menyukaiku melebihi saudaranya sendiri. Yang disukainya sejak dulu adalah Chen Ajiao, gadis yang juga pernah bersekolah bersama kami. Chen Ajiao itu jauh lebih cantik daripada aku. Dan dulu Junqing pernah berkata akan menjadikan Ajiao sebagai istri jika sudah dewasa nanti.”

Yingying kembali tersenyum lalu meninggalkan Zhang Rui. Dari dalam rumah, Zhang Rui melihat Junqing mengulurkan tangan hendak menggandeng Yingying, tapi putrinya itu sepertinya tak melihat. Dia berjalan terus melewati Junqing sehingga pemuda itu agak kesal..

Wajah Zhang Rui dihiasi cengiran. Dia senang melihat reaksi Junqing diabaikan.

***
Keesokan harinya Ma Junqing berkunjung lagi ke rumah Yingying pada waktu yang sama dengan kemarin.

Zhang Rui sedang duduk beristirahat di teras bengkelnya. Melihat Zhang Rui di depan rumah, Junqing menyapanya riang.

“Selamat siang Paman Zhang! Aku akan pergi ke Puncak Timur lagi menemani Yingying melukis. Lukisannya yang kemarin belum selesai.”

Bilang saja kau selalu ingin dekat dengan putriku, bisik Zhang Rui dalam hati. Tapi dia tak membalas perkataan Junqing. Zhang Rui membalikkan badan membelakangi Junqing. Dia mengambil sebilah busur dan memilah beberapa panah.

Junqing merasa Zhang Rui mengabaikannya. Tapi Junqing maklum. Kedua orang tuanya sejak dulu telah bercerita tentang tetangga mereka yang agak tertutup ini. Sebenarnya, Junqing mengagumi Zhang Rui. Duda pendiam ini tak pernah terlihat mengeluh membesarkan putrinya sendirian. Meski terkadang, dia juga terbentur kesusahan yang sulit dituturkannya.

Yingying keluar rumah dan telah siap dengan buku sketsa beserta kuas gambarnya. Sewaktu melihat Zhang Rui memanggul busur dan panah, Yingying bertanya,

“Ayah akan pergi?”

“Ya, aku akan pergi ke Puncak Timur bersama kalian.”

Junqing melongo. “Paman akan pergi bersama kami?”

“Ya. Yingying akan melukis. Aku dan kau akan berburu kelinci hutan.”

Yingying bersorak senang. “Aku senang sekali Ayah mau pergi. Berarti… nanti malam akan ada menu daging kelinci bakar…”

“Doakan saja semoga Ayahmu ini beruntung,” Zhang Rui tersenyum simpul.

Ketiga orang itu berjalan lalu mendaki ke Puncak Timur. Sepanjang perjalanan, Junqing gelisah karena tak dapat berjalan di samping Yingying. Dia berjalan paling belakang sementara Yingying paling depan. Zhang Rui sengaja berjalan di tengah menghalangi mereka berdua.

Setibanya di Puncak Timur, Yingying mulai duduk dan membuka buku sketsanya. Zhang Rui yang akan berburu kelinci hutan, menarik tangan Junqing.

“Biarkan Yingying melukis dengan tenang di sini dan kita mengerjakan urusan ‘pria’.”

“Tapi Paman, aku mau menemani Yingying di sini. Siapa tahu dia diganggu harimau…”

Zhang Rui pura-pura mendesah. “Selama lima belas tahun aku tinggal di Dusun Wei ini, aku tidak pernah mendengar atau melihat ada harimau berkeliaran di sini.” Ditatapnya Junqing dengan tajam. “Aku justru khawatir, kaulah yang berubah menjadi ‘harimau’ anak muda!”

Yinying membekap mulutnya menahan cekikikan yang nyaris terlontar. Cara ayahnya menegur Junqing benar-benar langsung mengenai titik sasaran. Junqing memelas. Dia tak bisa berkutik lagi sewaktu Zhang Rui menariknya menuruni bukit dan memasuki hutan untuk berburu.

***

Malam itu, Zhang Rui tak bisa tidur. Berbaring telentang, Zhang Rui menatap langit-langit kamarnya yang gelap.

Mendadak, suara istrinya belasan tahun yang lalu terdengar jelas.

“Jika kelak putri kita bertanya tentang aku, katakan saja aku sudah mati!”

Zhang Rui memejamkan mata memikirkan kata-kata istrinya. Sampai sekarang dia tidak pernah menyampaikan pesan istrinya itu kepada Yingying.

“Apakah Ibu sudah meninggal, Ayah?”tanya Yingying suatu hari ketika dia berusia sepuluh tahun. “Jika ya, di mana makamnya? Kenapa kita tidak pernah menziarahi makamnya sewaktu Qing Ming?”

“Ibumu…, dia belum meninggal,” Zhang Rui menjawab sambil tercekat.

“Kalau begitu di mana dia sekarang tinggal? Mengapa dia tak bersama kita?”

“Ibumu…, dia tinggal di sebuah tempat yang jauh dan tenang.”

“Apakah tempat itu lebih baik dari rumah kita?”

”Ya…

“Apakah suatu hari aku akan bertemu Ibu?”

Zhang Rui hanya tersenyum. Entahlah Nak. Bahkan Ayah sendiri tak tahu apakah masih diberi kesempatan menemuinya lagi sebelum usia Ayah berakhir nanti.

Kemudian suatu hari sewaktu Yingying berusia tiga belas tahun, dia bertanya lagi kepada Zhang Rui.

“Ayah, apakah aku mirip Ibu?”

“Mengapa kau menanyakan itu?”

Yingying menjawab, “Karena aku sudah besar sekarang. Aku ingin tahu, apakah rupaku menyerupai Ibuku?”

Zhang Rui tercenung dan mengamati wajah putrinya lekat-lekat. Mata Yingying sama sekali tak mirip ibunya. Sepasang mata yang sipit serta alis yang pekat itu lebih menyerupai milik Zhang Rui. Tapi hidung Yingying mirip dengan hidung wanita yang dulu Zhang Rui puja. Lurus, khas aristokrat. Bibir Yingying juga menyerupai bibir wanita itu. Penuh, sudut bibirnya akan melengkung naik bila tersenyum.

Zhang Rui bersyukur Yingying tidak mewarisi bentuk wajah perseginya dengan tulang pipi tinggi. Sebaliknya, bentuk wajah bulatlah yang dimilikinya. Kulit Yingying seputih dan sehalus ibunya sejauh yang bisa diingat Zhang Rui. Selain itu, tangan-tangan Yingying yang lentik mewarisi satu keahlian utama ibunya. Melukis.

“Sebenarnya tidak terlalu,” jawab Zhang Rui akhirnya. “Wajah Ibumu agak lonjong. Tapi kalau kalian bersama, orang tetap akan tahu kalian ibu dan anak.”

Yingying sebenarnya mengira Ayahnya akan mengatakan dia seratus persen mirip Ibunya. Tapi mendengar jawaban Zhang Rui tadi pun, dia sudah cukup puas. Setidaknya ada banyak tanda-tanda Ibunya pada dirinya.

“Mengapa kita sampai bisa berpisah dari Ibu?”

Zhang Rui tidak pernah menjawab pertanyaan satu ini. Atau memberi petunjuk apapun jika Yingying bertanya pada tahap ini. Zhang Rui akan bungkam. Dan Yingying tahu, sebaiknya pertanyaannya tak diteruskan meski dia sangat ingin tahu asal-usul ibunya serta bagaimana kedua orang tuanya bertemu.

“Aku tak bisa memberi tahu Yingying kalau kau sudah mati, Istriku,” bisik Zhang Rui dalam keheningan malam. “Sementara kau masih hidup dan berada di suatu tempat…”

“Jika saja kau melihat Yingying sekarang sudah besar… Aku merindukan kehidupan kita bertiga, Istriku. Bersamamu dan Yingying. Akankah kita diijinkan bertemu lagi pada sisa kehidupan ini?”

***
Musim dingin menyapa Dusun Wei. Namun tahun baru memberi kehangatan di desa terpencil itu.

Selepas tahun baru ini, Yingying akan berusia enam belas tahun. Zhang Rui memperhatikan kalau semua gaun putrinya telah berubah menjadi pendek dan sempit. Maka, menjelang tahun baru itu dia bermaksud membeli beberapa meter kain dari Tuan Ma untuk baju baru Yingying. Yingying sangat antusias. Tapi dia juga mengajukan syarat lain.

“Ayah juga harus beli kain untuk baju Ayah sendiri. Biar aku yang menjahitnya. Jika Ayah tak mau, aku pun tak sudi mengenakan baju baru!”

Zhang Rui jarang memperhatikan penampilannya sendiri. Dengan berat hati dia menyanggupi syarat Yingying setelah putrinya berkata,

“Aku tak sanggup memakai baju baru sementara Ayah sendiri bajunya penuh tambalan!”

Jadi, Zhang Rui membeli beberapa meter kain dengan dua warna berbeda: biru muda dan tua. Yang biru muda dibuat Yingying menjadi bajunya, sedang yang biru tua dibuat bagi ayahnya. Pada kesempatan ini, Nyonya Ma juga menyelipkan kain-kain bercorak yang serasi dengan kain biru muda Yingying. Yingying berhasil mengkombinasikannya hingga terciptalah gaun yang cantik.

Usai tahun baru, keluarga Ma mengajak Zhang Rui dan Yingying pergi ke ibukota Chang’an. Tuan Ma punya kenalan di Chang’an bernama Tuan Kong. Tuan Kong seorang pedagang dan sering berhubungan dengan para pedagang asing yang datang ke Chang’an lewat jalur sutra. Untuk menyenangkan hati pelanggannya, Tuan Kong biasa memberi mereka cinderamata berupa belati kecil dengan gagang berukir motif dari Dinasti Han. Dan, darimana lagi Tuan Kong memperoleh cinderamata-cinderamata tersebut jika bukan Zhang Rui yang membuatnya?

Tuan Kong mengenal Zhang Rui dari Tuan Ma. Ketika pertama kali memberi pekerjaan membuat belati cinderamata kepada Zhang Rui, Tuan Kong datang sendiri ke Dusun Wei. Setelah mengamati langsung cara bekerja Zhang Rui serta hasilnya, Tuan Kong merasa puas. Dia pun memberi Zhang Rui pekerjaan tersebut hingga bertahun-tahun berikutnya.

Tuan Kong telah berkali-kali mengundang Zhang Rui datang berkunjung ke rumahnya di Chang’an bersama Yingying. Undangan itu sudah sering disampaikan secara langsung maupun melalui Tuan Ma. Zhang Rui belum pernah memenuhi undangan tersebut sekalipun. Semenjak tinggal di Dusun Wei, baik Zhang Rui maupun Yingying sama sekali tidak pernah pergi lebih jauh dari hutan-hutan di sekitar desa.

Tapi tahun itu sepertinya Zhang Rui berubah pikiran. Tuan Ma terus-menerus membujuknya,

“Tuan Kong menganggapmu seperti temannya. Dia sangat ingin kau dan putrimu berkunjung di rumahnya. Bertahun-tahun kau menolak undangan berkunjung. Rasanya itu sama dengan menampik keramahan Tuan Kong.”

“Yingying juga sudah besar. Ajak dia ke Chang’an sesekali agar dia tahu dunia tak hanya Dusun Wei ini saja. Biarkan Yingying melihat banyak hal baru di Chang’an - serta hal-hal lain yang tak dijumpainya di Dusun Wei.”

Mata Yingying selalu berbinar bila mendengar tentang Chang’an. Dia sudah sering diceritakan mengenai kotaraja itu oleh keluarga Ma.

Junqing pernah berkata bahwa Chang’an kota yang sangat ramai. “Saking banyaknya orang di Chang’an,” kata Junqing. “Jika mereka bersamaan menyeka keringat pada musim panas, seluruh kota kelihatan seolah-olah sedang hujan.”

Tuan Ma berkata kalau ada banyak orang dari negeri asing berkunjung ke Chang’an. Mereka tidak semuanya pedagang.

“Ada cendekia dan pendeta. Penampilan mereka begitu berbeda dari orang-orang Daratan Tengah. Mereka juga berbicara dalam bahasa-bahasa asing yang tidak dimengerti. Tapi sebagian besar dari mereka ada pula yang fasih berbahasa mandarin.”

Nyonya Ma senang mengunjungi Chang’an karena selain bisa melihat aneka sutra dengan corak beragam, dia juga bisa memilih perhiasan-perhiasan indah yang dibuat dari negeri-negeri asing seperti India dan Persia.

“Tapi melebihi semua itu, yang paling kusukai jika mengunjungi Chang’an adalah Kuil Awan Terang. Itu adalah kuil Buddha yang terletak agak keluar dari kota. Di kuil itu orang-orang membakar lilin dan dupa untuk menghormati Bodhisatva Guanyin. Aku tak pernah lupa mengunjungi kuil itu jika sedang berada di Chang’an. Karena, di kuil itu tujuh belas tahun lalu aku pernah memohon seorang anak dan permohonanku terkabul.”

Kini mendengar rencana Keluarga Ma mengajak ayahnya ke Chang’an, membuat Yingying berharap-harap cemas. Dia sangat ingin ayahnya bisa pergi serta mengajaknya. Namun Yingying juga khawatir ayahnya akan menolak seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya.

Tapi tahun ini Yingying boleh lega. Zhang Rui setuju mengunjungi Tuan Kong di Chang’an. Yingying akan ikut. Namun ada suatu hal yang tidak disangka-sangka Yingying bakal terjadi. Sebuah peristiwa besar telah menantinya di Chang’an.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar