Welcome to my world

Segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China tertuang di sini.

Senin, 03 Mei 2010

The Painter Lady (5): Dalam Pelarian


Musim Panas

Pada festival perahu naga tanggal lima bulan lima, sepasang suami-istri mengunjungi kuil usai melihat perlombaan perahu.

Mereka masih sangat muda. Si suami mungkin baru awal dua puluhan sementara istrinya barangkali masih enam belas tahun. Si suami bertubuh jangkung, berwajah bersih dengan rambut terikat rapi. Si istri sangat cantik – kecantikannya tak dapat disembunyikan oleh pakaian katunnya yang sederhana sehingga beberapa pengunjung kuil yang lain tak kuasa meliriknya.

Si suami tampak perhatian kepada istrinya. Dia mendengar istrinya bicara sambil mendekatkan wajahnya. Dia juga menggenggam tangan istrinya. Benar-benar pasangan yang mesra dan bahagia.

Zhang Rui dan Ziwei menikah dengan hanya disaksikan langit dan bumi. Sangat sederhana. Pernikahan Ziwei pastinya akan jauh lebih megah jika yang dia nikahi adalah Zheng Yun. Masalahnya, Ziwei telah memilih jalan yang ditawarkan Zhang Rui. Dan dia tidak pernah menyesalinya.

Konsekuensinya, mereka sekarang hidup dalam pelarian. Ziwei memutuskan tidak kembali ke istana karena seperti yang Zhang Rui katakana, takdirnya semestinya tidak ditentukan siapapun termasuk oleh Permaisuri Wu.

“Mari kita membeli dupa dan kertas persembahan untuk merayakan pernikahan kita barusan,” kata Zhang Rui ketika dia dan Ziwei berjalan di halaman kuil.

Ziwei mengangguk setuju. Zhang Rui lalu pergi ke tempat penjualan dupa dan kertas persembahan sementara Ziwei menunggunya di pintu masuk aula.

Seorang peramal yang biasa berpraktek dekat tempat penjualan dupa sejak tadi mengamati sepasang suami-istri itu. Ketika Zhang Rui datang membeli dupa, peramal itu menghampirinya dan bertanya,

“Wanita di depan pintu masuk itu – apakah istrimu?”

“Ya. Dia istriku,” jawab Zhang Rui bangga.

Peramal berjubah Tao itu mengelus janggutnya sambil manggut-manggut. “Hm, rupa Nyonya itu begitu agung. Tapi kenapa dia bisa menikah denganmu?”

“Maksud anda?” Zhang Rui mengernyitkan kening.

“Nyonya itu ditakdirkan menjadi istri seorang pangeran atau pejabat tinggi. Dan terus terang kau sedikitpun tak memiliki aura bangsawan, Tuan.”

Alih-alih merasa tersinggung, Zhang Rui justru mencibir peramal itu. “Tidak seorang pun bisa menentukan takdir orang lain! Takdir itu muncul akibat hal-hal yang mereka pilih sendiri. Wanita itu telah menikah denganku – yang meski bukan bangsawan, tapi membuatnya bahagia. Apakah menurutmu ada yang lebih penting daripada itu?”

Peramal itu menggeleng-geleng. “Kebersamaan kalian akan sangat singkat. Aku melihat luapan air mata dan perpisahan. Kerinduan yang menyakitkan serta penantian yang tak bertepi.”

Zhang Rui mendengar perkataan si peramal seperti kutukan bagi pernikahannya.

“Omong kosong!” tampik Zhang Rui. “Aku dan istriku akan baik-baik saja dan kami akan bersama selamanya…”

***
Musim Gugur

Di istana yang megah di Luoyang, Permaisuri Wu duduk di depan meja di ruang kerja pribadinya.

Lempengan emas tanda pengenal wanita istana tergolek di hadapannya. Pada lempengan emas itu terukir nama Zhao Ziwei. Permaisuri Wu sedari tadi telah menatap lempengan emas itu.

Pemberontakan Ikat Kepala Kuning di Gunung Qiu telah berhasil dipadamkan. Beberapa di antara anggotanya mungkin berhasil lolos dan melarikan diri jauh ke selatan. Akan tetapi jumlah mereka tidak seberapa dan tidak mungkin bisa menggalang kekuatan kembali dalam waktu singkat.

Sewaktu markas para pemberontak itu digeledah oleh tentara, mereka menemukan lempengan emas Pelukis Wanita Zhao di antara barang-barang jarahan. Para pemberontak yang masih hidup diinterogasi tentang Ziwei. Dua-tiga orang di antaranya merupakan pria-pria yang ikut menyergap Zhang Rui dan Ziwei di celah sempit itu.

“Wanita yang menyamar sebagai pria itu – bersama pria yang seperti pengawalnya berhasil lolos dari kepungan kami. Mereka lari dan di sebuah tebing, mereka meloncat ke dalam sungai.”

“Kami tidak melihat keduanya muncul di permukaan lagi. Mungkin mereka terseret arus. Kami rasa, keduanya tidak akan keluar hidup-hidup dari sungai itu.”

Jika Ziwei dan Zhang Rui tewas, maka jenazah keduanya pasti muncul di permukaan. Permaisuri Wu memerintahkan para penyidik kerajaan untuk menyisir daerah sekitar sungai tempat Ziwei jatuh. Jika ada penduduk yang menemukan jenazah mereka maka harus diketahui dimana lokasi kuburan keduanya.

Namun hasil penyisiran itu nihil. Tak seorang penduduk pun pernah melihat jenazah dua orang mengambang di sungai. Yang ada, seorang istri pembuat cermin perunggu mengaku pernah menerima tamu dua orang pria menginap di bengkelnya. Ketika ditanya lebih lanjut, Nyonya itu merasa kalau salah satu pria itu adalah wanita yang menyamar jadi pria.

Berita menghilangnya Ziwei merupakan pukulan yang amat berat bagi keluarga Zheng. Zheng Yi langsung jatuh sakit usai mendengar berita itu. Zheng Yun telah kembali dari Korea dengan harapan besar bisa langsung menikahi tunangannya setelah menunggu sekian tahun. Tapi dia juga sangat shock mendengar Ziwei menghilang.

Permaisuri Wu harus datang sendiri ke kediaman Zheng untuk minta maaf karena tidak bisa mengembalikan calon menantu mereka sesuai janjinya tiga tahun lalu. Kondisi Zheng Yi sangat buruk. Rasanya, umurnya tak akan melewati tahun ini jika Ziwei tak segera ditemukan dan dibawa ke hadapannya.

Meski tak berkata apa-apa karena dia hanya seorang abdi, Zheng Yun melempar tatapan dingin kepada Permaisuri Wu. Seolah menghilangnya Ziwei disebabkan oleh sang Permaisuri.

“Zhao Ziwei, kau telah membuatku terlihat kejam di mata keluarga Zheng,” gumam Permaisuri Wu. Dia teringat permintaan Ziwei untuk membatalkan pertunangannya dengan Zheng Yun. Semestinya, waktu itu sang Permaisuri tidak menyanggupinya.

Permaisuri Wu teringat perkataan terakhirnya kepada Ziwei sebelum gadis itu pergi. “Jika di perjalanan nanti kau patah semangat hendak membatalkan misi ini, ingatlah kunci ‘kebebasanmu’ berada di tanganku.”

Tapi sekarang Ziwei menghilang entah kemana. Jika memang dia masih hidup seperti gambaran istri pembuat cermin perunggu itu maka saat ini dia pasti telah kabur dari sang Permaisuri.

Permaisuri Wu geram mengingat kemungkinan itu. Tangannya terkepal di atas meja. “Pelukis Wanita Zhao,” desisnya. “Jika kau mencoba lari dariku, aku bersumpah akan mencarimu meski ke ujung dunia sekalipun!”

***
Musim Dingin

Di sebuah kota kecil, sepasang wanita paruh baya sedang bercakap-cakap suatu sore di depan rumah mereka.

Keduanya berkawan baik. Mereka suka saling mengunjungi satu sama lain untuk berbincang-bincang. Kebetulan rumah keduanya berdekatan. Sore itu, topik pembicaraan mereka adalah tentang tetangga baru depan rumah mereka.

“Suami-istri yang tinggal di depan sana itu masih muda ya?” celutuk wanita yang satu.

“Ya. Si suami sangat ramah dan pandai besi yang handal. Kemarin dia membuatkanku sebilah pisau dapur. Ngomong-ngomong, istrinya sangat cantik. Tapi agak pendiam dan tidak bergaul dengan tetangga sekitar,” sambung wanita satunya lagi.

“Keduanya sepertinya sudah tak memiliki orang tua. Kulihat si istri sedang hamil. Bagaimana kalau dia bersalin kelak tanpa didampingi ibu atau mertua perempuannya?”

“Kemarin sewaktu mengambil pisauku, aku sempat bicara dengan si istri. Kataku, kalau dia melahirkan kelak dan butuh bantuan, suaminya dapat memanggilku ke rumah mereka.”

Suami-istri itu, Zhang Rui dan Ziwei, baru seminggu tinggal di kota kecil itu. Setelah beberapa bulan berpindah-pindah mereka akhirnya memutuskan menetap. Ziwei sedang hamil enam bulan. Perutnya semakin membesar tak tentu tak nyaman jika harus berpindah-pindah.

Beberapa bulan terakhir merupakan masa-masa penuh kebahagiaan bagi Ziwei. Meski dia dan Zhang Rui hidup dalam pelarian. Ziwei yakin Permaisuri Wu pasti penasaran karena dia tak kembali ke istana. Tapi Ziwei sudah tak peduli. Dia kini memegang takdirnya sendiri. Dia bebas. Tanpa kungkungan permaisuri, keluarganya maupun keluarga Zheng.

Ziwei sadar, dia bisa memperoleh hidup demikian berkat Zhang Rui. Dan Ziwei tidak pernah menyesal telah mengambil keputusan itu. Dia makin mencintai suaminya dari hari ke hari.

Pada suatu malam di musim gugur itu, Ziwei tengah melukis. Sudah lama dia tidak melakukannya. Hari itu tiba-tiba Zhang Rui membawa selembar kertas, kuas, tinta hitam serta batu tinta.

“Ini bukan kertas terbaik. Tintanya juga bukan dari arang damar. Tapi siapa tahu kau mau memakainya untuk melukis.”

Maka Ziwei melukis malam itu. Dia berkonsentrasi. Janinnya yang biasa bergerak malam itu menjadi tenang. Mungkin dia tertidur sewaktu ibunya sedang melukis. Zhang Rui duduk di samping dan mengamatinya.

Anehnya, tidak seperti dulu ketika Zheng Yun mengamatinya. Ziwei tidak keberatan Zhang Rui memandangnya. Tepatnya, suaminya itu memujanya. Meski pertemuannya dengan Zhang Rui lebih singkat daripada perkenalannya dengan Zheng Yun, Zhang Rui ternyata bisa membuatnya nyaman. Dari segi penampilan, orang-orang akan menganggap Ziwei terlalu cantik bagi Zhang Rui. Dan dari segi intelektual, Zhang Rui bukan pula pasangan yang tepat.

Orang-orang bisa saja mencap pasangan ini serasi atau tidak. Tapi orang-orang itu tidak peduli apakah mereka berbahagia atau tidak.

“Aku berharap anak pertama kita kelak perempuan. Dia akan secantik dirimu dan juga pandai melukis sepertimu, istriku.”

“Kebanyakan lelaki selalu berharap anaknya-terutama yang pertama adalah lelaki. Kau berbeda ya? Bagaimana kalau dia lelaki? Aku sebenarnya berharap dia lelaki.”

“Kalau lelaki pun tidak apa-apa. Semoga dia tumbuh setampan aku dan pandai melukis seperti dirimu.”

Ziwei tertawa.

Musim semi

Musim semi datang terlambat tahun itu. Meski tahun baru telah lewat, salju masih membukit dan hujan es masih turun.

Ziwei melahirkan anaknya pada suatu subuh yang dingin di akhir bulan kedua. Perempuan, sesuai keinginan Zhang Rui. Bayi mungil itu menangis keras ketika pertama kali menghirup napas di luar rahim ibunya. Bidan yang membantu persalinan merasa lega.

Tapi Zhang Rui sempat linglung. Dia tiba-tiba tidak tahu mesti berbuat apa ketika Ziwei mulai mengejan beberapa jam sebelumnya. Si calon ayah baru mondar-mandir gelisah.

Ketika bayinya sudah lahir pun Zhang Rui masih gugup. Ketika si bayi telah dibersihkan, Bidan mengajar Zhang Rui menggendong bayinya. Zhang Rui menggendong dengan canggung dan kikuk. Tapi memandang wajah putrinya membuat hati Zhang Rui diliputi kebahagiaan.

“Aku takut menggendongnya…,” Zhang Rui berterus terang. “Aku biasa bekerja kasar sehingga kuatir akan meremukkannya…”

Senyum tersungging di wajah Ziwei yang pucat. “Kau sangat lembut kepada orang-orang yang kau cintai. Kau tak mungkin akan menyakiti mereka.”

Zhang Rui merasa kepercayaan dirinya sebagai ayah tumbuh. Dia membawa bayinya ke hadapan Ziwei. “Kau harus memberinya nama,” kata Zhang Rui. “Jangan yang susah hurufnya. Nanti aku tidak bisa menulisnya…,” dia tersipu.

Ziwei membelai wajah putrinya yang sedang menguap. Kulit bayi itu kemerahan. Matanya yang sipit mengamati Ziwei dan Zhang Rui tanpa berkedip seolah sedang menelaah.

“Yingying. Kita beri dia nama Yingying. Itu adalah nama sejenis burung yang berbulu indah. Hurufnya pun mudah sehingga dapat kau tulis, Suamiku.”

Zhang Rui tersenyum. Dia coba menimang putrinya seraya berujar, “Yingying, kau telah diberi nama. Kau menyukainya, bukan? Ibumu memang pintar. Itu sebabnya ayah mencintainya…”

***
Pada hari kelima belas usai melahirkan, Ziwei ke pasar.

Ziwei sudah akan pulang usai membeli sayuran dan tahu ketika dilihatnya orang-orang bergerombol pada sebuah dinding. Mereka berbicara sambil menunjuk dua buah kertas yang tertempel di tembok.

Ziwei mendekat. Aetelah berhasil menyeruak dari orang-orang, Ziwei pun melihat kedua buah kertas itu.

Astaga! Ziwei terkejut hingga membekap mulutnya sendiri. Di kedua kertas itu terpampang lukisan dirinya dan Zhang Rui. Huruf besar pada bagian atas kertas bertuliskan: ‘Dicari!’

“Apa kau tidak merasa, pria bernama Zhang Rui dalam lukisan ini mirip dengan si pandai besi itu?” seseorang yang tidak menyadari kehadiran Ziwei berkata pada rekannya. “Coba tambahkan kumis pada wajah si pandai besi, pasti mirip.”

“Lalu kau hendak mengatakan, wanita yang menyamar jadi pria itu adalah istrinya? Di sini tertulis wanita itu seorang pelukis. Istriku barusan membantunya bersalin dan dia tidak menemukan alat lukis atau lukisan apapun di rumah si pandai besi.”

Wajah Ziwei memucat. Sebelum orang-orang menyadari kehadirannya, dia memilih lekas pulang. Sesampainya di rumah, bak kesetanan Ziwei langsung berlari ke kamar mengemasi barang-barangnya. serta membungkus Yingying dengan selimut.

Zhang Rui keheranan melihat sikap Ziwei. “Istriku, ada apa?”

“Kita sedang dicari pihak istana. Lukisan kita terpampang di tembok dekat pasar. Aku yakin lukisan-lukisan yang sama juga terpampang di penjuru lain kota ini. Kita harus segera meninggalkan tempat ini!”

“Tapi bukankah kita sudah aman tinggal di sini? Aku sudah merubah nama. Kau juga tidak lagi berdandan seperti pria dan bersikap seperti wanita istana.”

“Kau tidak tahu cara kerja para intelejen istana, suamiku,” tukas Ziwei. “Tapi kau harus mendengar kata-kataku. Begitu malam tiba, kita harus pergi dari sini!”

Zhang Rui tidak membantah Ziwei. Bagaimanapun, Ziwei pernah tinggal di istana. Dia pasti tahu kebiasaan polisi istana.

***
Menjelang tengah malam, sekelompok orang mengintai rumah si pandai besi.

“Apa kau yakin ini rumahnya?” Kasim Wang bertanya kepada salah satu petugas polisi.

“Ya,” jawab polisi itu. “Menurut saksi mata, sepasang suami-istri yang kita curigai itu tinggal di situ.”

Kasim Wang kebetulan berada di sebuah tempat dekat dari kota kecil tersebut. Kemarin dia mendapat laporan ada dua orang yang dicurigai mirip Ziwei dan Zhang Rui tinggal di sana. Kasim Wang segera berangkat dan tiba di kota kecil itu senja tadi. Bersama sekelompok pasukan, mereka mulai mengawasi rumah tersebut begitu malam tiba.

Pintu rumah tersebut tertutup. Tak ada satu cahaya pun dari dalam rumah. Kasim Wang curiga jangan-jangan buruan yang mereka cari sudah melarikan diri.

“Saatnya bergerak!” katanya kepada polisi yang berdiri di sampingnya.

Polisi itu mengangguk. Bersama polisi yang lain mereka menghampiri rumah tersebut dengan golok yang siap terhunus. Salah satu polisi menggedor pintu. Tak ada jawaban. Kasim Wang mengangguk. Memberi tanda kalau si polisi bisa mendobrak pintunya.

Pintu terbuka disertai bunyi debum keras. Di dalam rumah gelap-gulita. Sambil membawa obor-obor, Kasim Wang dan anggotanya memasuki rumah tersebut. Tak ada siapapun di dalam rumah.

Para polisi menggeledah untuk mencari petunjuk. Kasim Wang berjalan pelan mengamati sekeliling rumah. Bagian depan rumah terdapat tungku untuk menempa besi. Tidak banyak perlengkapan tapi semuanya berjejer rapi. Rumah itu terlalu bersih bagi seorang pandai besi. Tanda-tanda kehadiran wanita yang terbiasa hidup di lingkungan kelas atas yang rapi dan bersih ada di setiap sudut.

Seorang polisi menemukan ampas ramuan obat di dapur. “Ini tonik bagi wanita yang usai melahirkan, Tuan,” katanya sambil memperlihatkannya ke Kasim Wang. “Aku tahu karena istriku baru melahirkan dan meminum tonik dengan ramuan serta bau yang sama dengan ini.”

Kasim Wang mengamati ampas tonik itu. Dia berpikir, “Apakah Pelukis Wanita Zhao sudah memiliki anak dengan gelandangan itu?”

Kasim Wang meneruskan penjelajahannya ke dalam kamar. Di sana, dilihatnya ranjang tertutup kain yang rapi. Selain ranjang, kamar itu hanya berisi sebuah lemari kecil yang sudah kosong. Tak ada apa-apa lagi.
Tapi ketika menarik pintu kamar, di baliknya, Kasim Wang merasakan sesuatu. Dia mengangkat obornya tinggi-tinggi dan mengamati bagian belakang pintu kamar itu dengan seksama.

“Ya…, ya….,” Kasim Wang bergumam sambil menyeringai.

Di belakang pintu kamar itu terpampang lukisan hitam putih panorama pegunungan yang goresan kuasnya amat dikenal Kasim Wang. Lukisan yang sama, sudah pernah dilihatnya pada salah satu dinding kamar pribadi Permaisuri Wu.

“Pelukis Wanita Zhao,” Kasim Wang berujar lirih. “Kau memang pernah tinggal di sini…”

***
Sambil menggendong Yinying, Ziwei berjalan di antara semak-semak. Zhang Rui di belakangnya. Sesekali mereka melihat ke belakang untuk memastikan keduanya tidak diikuti.

Udara malam itu cukup sejuk tapi keringat membasahi kening Ziwei. Wajahnya ketakutan dan napasnya terengah-engah. Zhang Rui akhirnya memutuskan agar mereka berhenti sejenak.

“Kita harus berhenti sebentar. Kau harus istirahat, istriku.”

Awalnya Ziwei menolak. Tapi Zhang Rui mendesak. Mereka lalu mencari tempat lalu duduk di antara semak dan rumput ilalang yang tinggi.

“Syukurlah Yingying tidak bangun sampai sekarang,” kata Ziwei sambil mengamati wajah Yingying. Bulan yang hampir purnama menyinari wajah mungil bayinya yang sedang tertidur lelap.

Ziwei dan Zhang Rui keluar rumah lewat pintu belakang begitu hari sudah gelap. Waktunya nyaris bersamaan dengan sekelompok polisi pimpinan Kasim Wang yang mengintai dari arah depan rumah. Ziwei memutuskan dia dan Zhang Rui harus pergi ke selatan. Semakin jauh ke selatan semakin baik. Kalau perlu, biar sampai harus menyeberangi sungai Yangzi.

“Aku yang harus disalahkan karena menyebabkan kita hidup seperti ini. Sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah seperti buronan,” kata Zhang Rui.

“Tidak!” Ziwei menggenggam erat tangan Zhang Rui. Dia takut jika Zhang Rui diliputi rasa bersalah, maka semangatnya akan runtuh juga.

“Kalau ada yang mesti disalahkan, maka aku juga bersalah. Kita sama-sama telah menciptakan hal ini. Maka tidak boleh kau sendiri yang menanggungnya…”

Ziwei mendadak terdiam. Matanya membelalak menatap Zhang Rui.

Ziwei menelungkupkan punggung dan memeluk Yinying erat. Zhang Rui refleks memeluk keduanya. Mereka tak berani mengeluarkan suara. Tak lama, terdengar derap kuda dan suara langkah-langkah kaki di antara semak-semak.

Kasim Wang beserta rombongannya menapaki jalan setapak yang sempit. Beberapa pengawalnya memotong ilalang yang tumbuh tinggi menghalangi tepi jalan. Lalu salah satu petugas yang menyertainya menunjuk ke sebuah semak yang bergoyang. Kasim Wang mengangguk.

“Kau tadi mengikuti mereka sampai ke sini, bukan?” tanya Kasim Wang lirih.

Petugas itu mengangguk. Ketika Tuan membawa petugas mengintai mereka dari pintu depan, diam-diam saya melihat mereka kelluar dari pintu belakang dan mengikuti. Saya yakin mereka pasti berada di sekitar sini sekarang.”

Lalu salah seorang pengawal berteriak, “Ada orang di sana? Jika ya, lekas keluar dan tunjukkan dirimu!”

Tak seorang pun keluar. Pengawal itu mengulangi teriakannya.

“Siapa di sana? Lekaslah keluar! Jika kau keluar baik-baik, kami janji tidak akan bertindak kasar!”

Tetap tak seorang pun yang muncul. Kasim Wang akhirnya berseru,

“Pelukis Wanita Zhao! Aku tahu kau berada di sekitar sini! Keluarlah dan temui aku!”

Orang-orang yang bersembunyi itu tetap tak mau keluar rupanya. Kasim Wang kemudian berkata,

“Pelukis Wanita Zhao, jangan mendesakku untuk melakukan tindakan biadab. Kau ingin aku membakar seluruh semak dan ilalang ini agar kau keluar? Tapi bagaimana jika nanti kau terperangkap? Suami dan bayimu akan ikut mati terbakar bersamamu.”

Tak ada sahutan. Tak ada tanda-tanda seorang pun akan muncul. Kasim Wang turun dari kudanya dan mengambil obor dari salah satu petugas.

“Baiklah,” katanya sambil berjalan menyusuri semak. “Aku akan membakar mulai dari sini…”

Kasim Wang menaruh obor dekat dengan ilalang yang meninggi. Lidah api sudah akan menjilat ilalang itu sewaktu didengarnya seorang wanita berseru.

“Tunggu! Aku keluar!”

Kasim Wang berbalik. Di balik punggungnya dia melihat Ziwei yang menggendong bayi beserta suaminya berdiri. Dan inilah yang ingin dilihat Kasim Wang. Wajah sepasang kekasih pelarian yang tak berdaya.

***
Ziwei dan Zhang Rui ditahan di penjara bawah tanah kabupaten yang pengap. Sel mereka khusus tapi terpisah. Yingying bersama Ziwei.

Yingying merasa sesuatu tak beres menimpa orang tuanya. Dia mulai gelisah, menangis dan merengek. Ziwei berusaha menenangkannya meski dia sendiri kelelahan. Zhang Rui memandangnya dari sel terpisah dengan perasaan frustasi. Dia tak bisa berbuat apa-apa sehingga memukul dinding sebagai pelampiasan kekesalannya.

Beberapa jam usai ditahan, Kasim Wang mendatangi penjara bawah tanah tersebut. Ziwei dibawa keluar untuk duduk di hadapan Kasim Wang sambil masih menggendong Yingying. Kasim Wang berkata kepada Ziwei,

“Yang Mulia Permaisuri sangat kehilangan dirimu. Dia memerintahkan pencarimu ke mana-mana. Dia selalu ingat janjimu untuk melukis Gunung Qiu di perpustakaan istana.”

“Yang Mulia punya banyak pelukis lain yang handal. Dia bisa meminta pelukis lain untuk melakukannya – bukan hanya diriku,” Ziwei berkata dingin.

Kasim Wang berkata diplomatif, “Sekian tahun tinggal di istana, kau tentu sudah tahu sifat Yang Mulia Permaisuri. Di istana memang masih banyak pelukis handal lain. Tapi Yang Mulia menganggapmu sangat berharga. Dan Yanga Mulia tidak akan melepas sesuatu yang berharganya begitu saja. Itu sebabnya dia memerintahkan pencarianmu. Kau harus ditemukan dan dibawa kembali ke hadapan Yang Mulia sekalipun telah menjadi mayat!”

Ziwei memandang Kasim Wang tajam. Tapi Kasim Wang tidak terpengaruh. Dia mendekatkan wajah kea rah Ziwei lalu berbisik,

“Kau tidak memikirkan keluargamu? Almarhum kakekmu dulu dikenal sebagai penentang Yang Mulia Permaisuri. Apa kau tak khawatir karena dirimu, Yang Mulia bisa mengarang sebuah cerita dan menuduh keluargamu akan melakukan makar? Apalagi kau masih berstatus calon menantu keluarga Zheng, bukan? Kedua keluarga ini akan dituduh berkomplot untuk menggulingkan Yang Mulia.”

“Kasim Wang, apakah dirimu atau Yang Mulia Permaisuri bermaksud mengancamku?”

“Aku mewakili Yang Mulia Permaisuri menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya,” ujar Kasim Wang tenang – dibarengi senyum licik. “Aku pengenal watak Yang Mulia paling baik dari abdi manapun. Aku sudah sering melihat Yang Mulia Permasiuri ‘memakan anaknya sendiri’ jika itu memang dianggap perlu untuk memuaskan rasa egonya yang tinggi. Tidak terkecuali keluarga Zheng yang merupakan pendukungnya.”

Ziwei tetap tak bergeming. Melihatnya demikian, Kasim Wang mengisyaratkan kepada dua pengawalnya agar merampas bayi Yingying.

Ziwei memekik dan mencoba mempertahankan Yingying. Zhang Rui yang menyaksikan dari selnya turut berteriak. Yingying yang terkejut karena ditarik paksa menjerit dan menangis keras.

Seorang pengawal menyergap Ziwei sedang yang satunya menyerahkan Yingying kepada Kasim Wang. Dari selnya, Zhang Rui memukul jeruji berkali-kali.

Kasim Wang menggendong Yingying sejenak sebelum meletakkannya ke atas meja. “Bayi yang cantik,” gumamnya. “Kelak dia akan menyerupaimu, Pelukis Wanita Zhao, kecuali sepasang matanya – sipit seperti ayahnya.”

“Kasim Wang, apa yang akan kau lakukan?” tanya Ziwei cemas.

“Kupikir jika kau tak memikirkan keselamatan keluargamu maupun keluarga Zheng, kau peduli pada nyawa putrimu.”

Kasim Wang membelai leher Yingying dengan tangan kanannya. Setelah mengelus beberapa kali, dia bersiap mencekiknya.

“Tidak!” Ziwei dan Zhang Rui berseru bersamaan.

Kasim Wang menatap Ziwei tanpa belas kasihan. “Aku sudah berpengalaman membunuh bayi. Dulu aku pernah melakukannya dengan bayi perempuan Permaisuri Wu sewaktu hendak menjatuhkan Permaisuri Wang. Cepat sekali. Bayi itu hanya mengejang sesaat. Mulutnya terbuka tapi dia tidak sempat menangis - nyawanya sudah melayang.”

“Tidak!” Ziwei berteriak sekuat tenaga. “Jangan lakukan itu, kumohon!”

“Tuan, kumohon bunuhlah aku!” teriak Zhang Rui dari selnya. “Tapi jangan sakiti putriku!”

Kasim Wang melihat tajam ke arah Zhang Rui. “Jangan khawatir. Kau yang berikutnya setelah bayimu jika Pelukis Wanita Zhao tidak setuju ikut pulang bersamaku ke istana!”
Kasim Wang menekan tangannya. Yingying mulai bergerak-gerak gelisah.

“Hentikan! Hentikan!” Ziwei melolong. “Baik! Aku turuti maumu! Aku pulang! Aku akan kembali ke istana bersamamu!”

Tangan Kasim Wang belum terlepas dari Yingying. “Coba ulangi kata-katamu barusan. Kamu yakin akan kembali ke istana?”

“Ya…,” Ziwei menjawab lirih. Lututnya melorot lemas ke lantai. “Ya…,” akhirnya dia kalah. “Asal kalian jangan sakiti bayiku… Jangan sakiti suamiku…”

Kasim Wang melepaskan tangannya dari Yingying. Tangis Yingying pecah. Sewaktu Ziwei hendak mengambil bayinya, Kasim Wang menghalanginya.

“Kau telah berjanji akan kembali ke istana bersamaku. Kau tak boleh menyentuh bayimu lagi.”

Ziwei menatap Kasim Wang seolah tak percaya.

“Yang Mulia Permaisuri hanya ingin melihatmu – tidak gelandangan itu maupun bayimu!”

“Tapi aku tak mungkin berpisah dari mereka! Bayiku, aku baru melahirkannya belum genap sebulan!”

“Kau boleh memilih: kembali ke istana tanpa bayi dan suamimu. Atau menyentuh kembali bayimu dalam bentuk jenazah!” Kasim Wang mengancam sambil mencengkeram erat siku Ziwei. “Tadi itu aku sudah setengah mencekiknya, Pelukis Wanita Zhao. Berikutnya aku pastikan tidak setengah-setengah lagi.”

Seumur hidup, Ziwei sama sekali belum pernah dihadapkan pada pilihan yang begitu sulit. Saking sulitnya mengambil keputusan itu, amarah berkobar dalam diri Ziwei.

“Kasim Wang,” Ziwei mengucapkannya dengan gigi gemelutuk menahan marah. “Kuturuti maumu. Lepaskan suami dan anakku. Aku akan ikut denganmu ke istana.”

Kasim Wang tersenyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya dan Ziwei terhempas ke lantai. “Bagus, Pelukis Wanita Zhao. Begitu baru disebut wanita bijak.”

Ziwei menatap Zhang Rui di selnya. Zhang Rui menggeleng-gelengkan kepala. Dia menangis. Akhirnya, Ziwei menyerah memperjuangkan kebebasannya.

***
Malam itu, Zhang Rui dan Ziwei saling berhadapan untuk yang terakhir kalinya. Tapi pertemuan terakhir ini dibatasi oleh jeruji.

Zhang Rui menggendong Yingying. Bayi itu tengah tertidur di pelukannya.

“Bagaimana nasib Yingying kelak? Aku tak yakin bisa membesarkannya sendirian tanpa dirimu, Istriku,” Zhang Rui berkata sedih.
“Aku tak bisa membaca ataupun menulis banyak huruf. Sementara kau bisa. Aku juga ingin kelak dia bisa melukis sepertimu. Siapa yang kelak mengajarinya semua itu jika bukan dirimu?”

“Dia bisa mengenal huruf atau tidak, melukis atau tidak, itu tidak penting. Yang paling penting didiklah dia dengan kebajikan yang kau miliki, Suamiku.”

“Kebaikan apa yang kumiliki untuk mendidiknya kelak? Kau tahu aku yatim-piatu sejak kecil. Hidup menggelandang nyaris separuh umurku dan hanya mengenal rumah beberapa tahun saja…”

Zhang Rui berkata dengan penuh emosi. Ziwei terdiam sesaat. Berpikir.

“Pertama-tama, kalian harus mencari tempat baru untuk menetap. Carilah sebuah desa terpencil untuk memulai hidup baru,” Ziwei kemudian berkata. “Kau juga kuijinkan menikah lagi asal wanita itu memperlakukan Yingying dengan baik...”

Mendengar kalimat terakhir Ziwei, Zhang Rui memotong, “Aku bersumpah tidak pernah menikah sementara kau masih hidup, Istriku! Aku tak akan melakukannya meskipun kau memaksaku!”

Ziwei menghela napas. “Aku tahu hidup kalian nanti tidaklah mudah. Jika kau tak mau menikah lagi, berusahalah sebisanya untuk tidak bergantung pada orang lain. Jangan mengandalkan belas kasihan mereka. Ini baik untuk mendidik Yingying agar dia mandiri.”

“Jangan manjakan Yingying – jangan pula keras padanya. Karena dia akan tumbuh tanpa ibu. Satu hal yang penting. Jangan jodohkan Yingying dengan siapapun – terlebih ketika dia masih kecil. Agar kejadian yang sama denganku tidak terulang olehnya. Biarkan kelak dia memilih calon suaminya sendiri lalu diperkenalkan padamu.”

Zhang Rui menyimak setiap perkataan istrinya. Lalu dia berbisik,

“Jika kelak Yingying bertanya tentangmu, apa yang harus kukatakan?”

Ziwei menjawab, “Katakan saja aku sudah mati.”

“Tidak,” Zhang Rui menggeleng. “Aku tidak bisa menjawab begitu padahal kenyataannya kau masih hidup.”

“Kalau kau mengatakan aku sudah mati, selanjutnya dia pasti tak akan bertanya-tanya lagi tentangku.”

“Lalu Istriku, bagaimana nasibmu sekembalinya di istana?”

“Aku belum tahu,” jawab Ziwei mengambang. “Mungkin Yang Mulia Permaisuri akan mengampuniku dan semuanya kembali seperti semula seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun, berdekatan dengan penguasa bukan berarti kita mengetahui seluruh jalan pikiran mereka. Aku mungkin pula akan dihukum. Jika harus dieksekusi pun, aku sudah siap.”

“Jangan berkata tentang kematian, Istriku! Aku tak ingin kau mati!” Zhang Rui mengulurkan tangannya ke dalam jeruji berusaha menggapai wajah Ziwei. “Kumohon berjanjilah padaku. Berusahalah sebisanya untuk terus hidup. Jika kesempatan telah terbuka kembali, ingatlah untuk mencari kami. Kami selalu menunggumu.”

Ziwei menggenggam erat tangan Zhang Rui dan mengusapnya di pipinya. Dia mulai menangis. Dia mengangguk lemah.

Ya… Jika kesempatan itu ada. Aku akan kembali pada kalian…”

Ziwei dan Zhang Rui mendekatkan dahi mereka di antara jeruji. Begitu beratnya perpisahan di antara keduanya…

***
Begitu keluar dari penjara bawah tanah itu sambil menggendong Yingying, Zhang Rui yang dulu sudah tak ada lagi. Seluruh keceriaan serta sifat periangnya lenyap - digantikan sikap pendiam, tertutup dan protektif. Masa penantian serta rindu-rindu yang tak bertepi telah dimulai.

Sambil menggendong Yingying, Zhang Rui berjalan tak tentu arah. Dia tak peduli kemana akan melangkah. Saat hari terang dia terus berjalan. Saat hari gelap dia berhenti pada sembarang tempat untuk beristirahat malam itu.

Zhang Rui tak mempedulikan penampilannya lagi. Zhang Rui mencoba bertahan demi Yinying. Dia tak mau berpisah dari Yingying. Tapi kesedihannya membuatnya enggan makan atau minum.

Yingying diberi makanan seadanya yang menurut Zhang Rui mudah dicerna bagi bayi. Zhang Rui tak menyadari, dalam kesedihannya, dia telah menjadikan Yingying bayi tak terawat selama beberapa waktu.

Untunglah itu tak berlangsung terlalu lama. Langkah-langkah kaki membawa Zhang Rui ke sebuah dusun terpencil di kaki Pegunungan Qinling. Dusun itu berpanorama indah dan penduduknya ramah. Zhang Rui teringat pesan Ziwei untuk memulai kehidupannya bersama Yingying di desa terpencil. Dia pun memutuskan menetap di tempat itu.

Nama desa itu adalah Dusun Wei.

***
Ziwei kembali ke istana bersama Kasim Wang.

Sewaktu bertemu Permaisuri Wu, sang permaisuri sama sekali tidak menyinggung soal menghilangnya Ziwei. Dia hanya meminta Ziwei melukis sketsa panorama Gunung Qiu yang dilihatnya setahun lalu.

Kini Ziwei seperti patung. Digeser ke sana-sini, dia menurut saja. Semangatnya telah melayang jauh. Dan ini mempengaruhi lukisannya. Permaisuri Wu sangat marah ketika melihat sketsanya.

“Lukisan macam apa ini?” Permaisuri Wu membolak-balik sketsa-sketsa Ziwei tentang panorama Gunung Qiu. “Semuanya tak tampak seperti Gunung Suci. Semua ini malah tampak seperti batang kayu lapuk!”

Dipenuhi emosi, Permaisuri Wu melempar semua gulungan lukisan ke lantai.

“Pelukis Wanita Zhao, kau sungguh tak tahu berterima kasih!” seru Permaisuri Wu.

Ziwei tidak berkata apapun. Kepalanya terus tertunduk. Melihatnya tetap diam, Permaisuri Wu semakin terbakar amarah.

“Kau telah mengkhianati kepercayaanku dan kini kau tak berusaha untuk memperbaikinya?”

Ziwei bersujud di hadapan Permaisuri Wu. “Hamba mengaku bersalah. Hukumlah hamba jika Yang Mulia memang menginginkan. Hamba siap menerimanya – sekalipun itu adalah hukuman mati.”

“Kau ingin mati?” dengus Permaisuri Wu. “Huh! Hukuman itu terlalu mudah bagimu!”

Permaisuri Wu membalikkan tubuh membelakangi Ziwei. Beberapa saat kemudian baru dia bicara lagi dengan nada lebih tenang.

“Pelukis Wanita Zhao, sesungguhnya aku iri padamu. Kau mengambil suatu tindakan berani dengan melarikan diri bersama pria pilihanmu. Sementara aku, terlalu pengecut untuk menanggalkan semua kekuasaan serta harta di istana ini demi mengejar cinta sejatiku.”

“Kau sungguh bernyali menentang kakekmu, Keluarga Zheng dan aku sendiri. Sedang aku yang kelihatan punya segalanya, terlalu penakut untuk melawan diriku sendiri.”

Permaisuri Wu terdiam sesaat. Lalu, dengan suara dingin dan kejam, dia berkata,.

“Tapi aku benci ada wanita yang kehidupan cintanya lebih bahagia daripada diriku. Aku tidak suka pada wanita yang mencintai kekasihnya sedemikian rupa hingga dia rela meninggalkan segalanya. Karena aku tidak demikian. Aku tidak bisa melakukan hal demikian. Itu sebabnya aku menginginkan wanita-wanita sepertimu sama menderitanya denganku – kalau perlu, merasa lebih merana melebihi aku!”

Permaisuri memutar tubuhnya dan menatap Ziwei yang masih bersujud dengan kepala menunduk ke lantai.

“Kau tadi bicara soal hukuman, Pelukis Wanita Zhao?” tanya Permaisuri Wu. Bibirnya tersungging senyuman. Seulas senyum culas. “Aku telah menemukan hukuman tepat buatmu…”

Permaisuri Wu menghela napas. Dia seperti sedang bertitah, “Aku akan mengembalikanmu ke keluarga Zheng!”

Ziwei terkejut. Dia mendongakkan kepala menatap Permaisuri Wu - seolah tak percaya.

“Yang Mulia! Yang Mulia tidak bisa mengembalikanku ke keluarga Zheng!” seru Ziwei.

“Kenapa?” Permaisuri Wu tersenyum licik - senang melihat kepanikan Ziwei. “Aku hanya melaksanakan janjiku kepada mendiang Zheng Yi empat tahun lalu.”

“Tidak…” Ziwei bergumam. “Tidak…,” dia merangkak ke Permaisuri Wu dan menarik tepi jubahnya. “Yang Mulia tak boleh mengembalikanku kepada keluarga Zheng. Bagaimanapun aku telah mengkhianati Zheng Yun. Bagaimana aku bisa punya muka lagi menemuinya? Aku lebih baik mati daripada menemui mereka…”

Permaisuri Wu menatap Ziwei tanpa belas kasihan sedikitpun.

“Kau tidak boleh cepat mati. Aku tak mau kau cepat mati. Aku selalu menyukai kematian yang perlahan-lahan… Seperti yang dialami Permaisuri Wang dan Selir Xiao dulu. Kukurung mereka dalam ketidakpastian. Lalu, setelah mereka putus asa, aku baru menganugerahkan kematian kepada mereka.”

“Untuk wanita semacam dirimu, Pelukis Wanita Zhao - aku tak perlu membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku akan meminjam istilah Jendral Cao Cao dari jaman Tiga Negara: ‘Membunuh melalui tangan orang lain’. Jika kelak kau mati di keluarga Zheng, orang-orang tak akan menuduhku sebagai penyebab kematianmu. Aku malah dipuji karena telah menepati janji kepada keluarga Zheng. Keluarga Zheng-lah yang dianggap sebagai pembunuhmu yang sebenarnya…”

Tubuh Ziwei terkulai lemas. Tiba-tiba disadarinya, Permaisuri Wu yang dulu begitu dikaguminya, kini menunjukkan sisi lainnya yang asli: menjadi wanita paling kejam yang pernah ditemui Ziwei.

Permaisuri Wu melihat Ziwei tercengang dan mulai tertawa. Dia terus tertawa sewaktu meninggalkan Ziwei yang tersungkur. Suara tawanya menggema di sepanjang lorong-lorong koridor istana seperti siluman wanita yang baru saja mengalahkan seorang dewi.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar