Welcome to my world

Segala cita-cita, impian dan gairah akan kisah-kisah China tertuang di sini.

Jumat, 16 April 2010

Dongeng dari Dimen




Di Guangxi, China, terdapat sebuah desa di ujung waktu. Dimen namanya.

Penduduknya gemar bernyanyi dan menari. Sedari kecil, mereka belajar bernyanyi dari para za – wanita sepuh. Ketika beranjak dewasa, beberapa di antaranya bahkan mampu menciptakan lagu-lagu mereka sendiri. Darah biduan ini merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur mereka.

Nah, sekarang aku akan menceritakan sebuah kisah lama dari Dimen. Sebut saja, Dongeng Dari Dimen. Di sebuah tempat dekat jembatan dua phoenix yang merintangi sungai di Dimen, terdapat kedai minum. Pemiliknya seorang pria bermarga Wu, bernama Xun. Usianya ketika kisah ini pertama kali ditulis adalah dua puluh lima tahun.

Wu Xun mempunyai seorang istri bernama Li Niang. Mereka telah beberapa tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Beberapa kenalan menyarankan agar sepasang suami-istri itu menemui dukun atau membuat kaul kepada dewata. Namun baik Wu Xun maupun Li Niang menolak. Keduanya percaya meski belum memiliki anak, Langit pasti punya rencana baik lain bagi mereka.

Selain Li Niang, Wu Xun juga punya adik-adik yang membantunya mengurus kedai. Adik bungsunya, Wu Jie berusia lima belas tahun. Perawakannya kekar dan kuat. Di atas Wu Jie ada satu saudara perempuan. Namanya Lianlian, usianya tujuh belas tahun.

Selain Lianlian, di kedai minum Wu tinggal gadis lain. Sepupu ketiga bersaudara itu: Jinlan. Jinlan adalah putri paman ketiga bersaudara Wu dari pihak Ayah. Dia yatim-piatu pada usia sepuluh dan sejak itu tinggal di bersama ketiga bersaudara Wu. Jinlan hanya setahun lebih tua dari Lianlian. Tahun ini usianya delapan belas.

Wu Lianlian terkenal sebagai gadis paling cantik di Dimen. Dia kembang desa. Banyak pria yang langsung jatuh hati padanya hanya pada pandangan pertama. Bagaimana tidak? Lianlian sungguh gadis yang amat elok. Wajah bulat dengan bibir mungil kemerahan. Hidung bangir. Alis melengkung bak bulan sabit. Kedua matanya bulat, bersinar ekspresif.

Lianlian periang. Suaranya merdu dan pandai bernyanyi. Dia juga pintar menari. Setiap kali menari, tubuhnya meliuk dengan luwes. Hiasan rumbai-rumbai di topinya pun ikut bergoyang seirama dengan tariannya. Lianlian seperti kembang api. Penuh vitalitas dan meletup-letup. Bercahaya dan dikagumi.

Sepupunya, Wu Jinlan, bertubuh jangkung dan langsing. Di Dimen para wanita memakai topi berhias di kepala mereka. Topi membuat Jinlan semakin tinggi dan tampak menonjol diantara teman-teman sebayanya, termasuk sepupunya, Lianlian. Namun hal ini tidak membuatnya dipuja banyak pria seperti Lianlian.

Jinlan cantik dengan cirinya tersendiri. Dia mungkin kurang menyadarinya. Wajahnya lonjong. Tulang pipinya tinggi dan mata lebar. Jari-jari tangannya lentik. Jinlan mahir menjahit dan menyulam. Tapi minat terbesarnya sebenarnya bukan itu.

Setiap malam, sebelum tidur, Jinlan akan menyempatkan waktu membaca selama satu jam. Dia gemar membaca buku-buku yang tersimpan di dalam peti di bawah ranjangnya. Buku-buku itu diperolehnya dari pedagang-pedagang dari Guangdong. Jinlan satu dari sedikit wanita yang dapat membaca dan menulis di Dimen pada masa itu. Dia gemar membaca kisah-kisah klasik. Kisah-kisah klasik itu, berpadu dengan keindahan alam Dimen, menginspirasi Jinlan menciptakan syair lagu-lagu baru.

Jinlan selalu membaca dengan cahaya pelita di malam hari. Lianlian yang sekamar dengannya biasa meledeknya, “Kau masih juga membaca ketika orang-orang sudah tidur. Apakah kau tak takut matamu akan buta jika kau membaca terus setiap malam?”

Sambil tersenyum Jinlan menjawab, “Kau bermaksud menakut-nakutiku. Kau lupa. Kau biasa memintaku menciptakan syair lagu baru untuk kau nyanyikan usai aku membaca.”

Lianlian memandangi Jinlan sambil tersenyum simpul.

Kedua gadis ini, satu cantik dan satunya bijak-merupakan anugerah bagi keluarga Wu. Seseorang pernah berkata kepada Wu Xun, “Langit belum memberimu anak karena masih mengijinkan dua gadis cantik-rupawan untuk tinggal di rumahmu.”

***
Tak jauh dari kedai minum Wu, terdapat keluarga penenun yang terdiri dari tujuh orang bersaudara.

Si sulung lelaki, bernama Bai Long. Dia mempunyai peternakan ulat sutra kecil di belakang rumahnya. Jika sedang tidak mengurus ulat-ulat sutranya, Bai Long memintal benang. Sehingga dia biasa juga disebut Pemintal Bai.

Tiga adik setelah Bai Long perempuan. Dahong, Erhong dan Xiaohong, usianya masing-masing hanya terpaut setahun. Ketiganya memiliki keahlian memintal dan menenun. Mereka juga terkenal dengan sebutan ‘Tiga Bersaudari Bai’

Setelah Xiaohong, tiga adik berikutnya adalah lelaki. Bai Hu, adik kelima, usianya lima belas tahun. Adik kelima dan keenam kembar. Masing-masing bernama Daowa dan Xiaowa. Tahun ini usia keduanya tiga belas tahun.

Semenjak kedua orang tua mereka meninggal akibat wabah penyakit yang melanda Dimen beberapa tahun silam, praktis Bai Long menjadi kepala keluarga dan mengurus adik-adiknya. Ketujuh bersaudara itu sangat kompak dan rukun. Jarang terdengar perselisihan di antara mereka. Para kakak mengayomi. Para adik menghormati. Masing-masing saling menyayangi.

Bai Long telah berusia dua puluh satu. Saudara-saudarinya mulai mencemaskan calon kakak ipar mereka. Apakah Bai Long telah menentukan pilihan? Dia tak pernah menunjukkan kalau tengah menaruh perhatian kepada gadis tertentu. Atau jangan-jangan Bai Long diam-diam telah naksir seorang gadis? Tak ada yang tahu pasti karena Bai Long tidak pernah membahasnya.

Mereka mengira si pemintal, seperti kebanyakan pemuda lain di Dimen, menyukai bunga desa mereka, Wu Lianlian. Perkiraan mereka tidak sepenuhnya keliru. Bai Long memang telah lama menyukai seorang gadis. Dan gadis itu ada hubungannya dengan Wu Lianlian. Keduanya selalu terlihat bersama.

Jika para pemuda lain lebih tertarik pada Lianlian, maka Bai Long lebih senang memandang gadis di sebelah Lianlian yang bertubuh jangkung, berwajah lonjong dengan tulang pipi tinggi. Sebuah penjepit bunga anggrek emas selalu ada di kepala gadis itu. Konon, jepit rambut itu dibuat oleh Ayahnya sebelum meninggal-sesuai dengan namanya yang berarti anggrek emas: Jinlan.

Karena rumah mereka berdekatan dan saudari-saudarinya sebaya dengan kedua sepupu Wu itu, Jinlan dan Lianlian sering bertandang ke rumah si pemintal. Bai Long telah lama menyukai Jinlan. Jinlan lebih pendiam daripada Lianlian. Tapi bukan berarti dalam diri gadis itu tak berkecamuk kata-kata. Bai Long tahu Jinlan sering mencurahkan perasaanya pada syair-syair lagu ciptaannya yang dinyanyikan Lianlian. Lianlian mungkin bisa menyanyikan lagu-lagu itu dengan merdu. Tapi dalam bayangan Bai Long, gadis yang duduk di tengah padang bunga mengagumi sungai, pegunungan dan awan seperti dalam kebanyakan syair lagu itu bukan Lianlian.

Dengan keahlian seperti itu, Bai Long yakin kelak Jinlan akan menjadi seorang za di masa tuanya. Seorang za menempati posisi terhormat di masyarakat Dimen. Dia mengajar generasi-generasi penerus tentang adat istiadat Dimen lewat syair-syair lagu. Bai Long yakin, Jinlan akan menjadi za berbeda dengan za lainnya. Za lainnya hanya menurunkan lagu-lagu lama, tapi Jinlan melakukan lebih dari itu: dia akan menciptakan banyak lagu baru.

Jinlan tidak pernah berusaha menarik perhatian pria manapun. Dia agaknya menyadari kalau pria lebih tertarik kepada sepupunya daripada dirinya. Bagi Bai Long, Jinlan memukau dengan gayanya sendiri. Dia lebih mirip bunga teratai. Mekar menjulang dari tangkainya yang kecil. Tak peduli air kolam sekitarnya bening atau keruh, teratai selalu mekar dengan indah.

Meski telah cukup lama memendam perasaan terhadap Jinlan, Bai Long belum punya keberanian untuk mengungkapkannya kepada siapa pun. Meski bukan wanita tercantik, ada hal-hal dalam diri Jinlan yang bisa membuat Bai Long kehilangan kepercayaan diri. Kelembutannya, kecerdasannya serta keanggunannya.

Kadang-kadang, Bai Long bisa mendadak gugup jika berhadapan dengan Jinlan. Seperti pada suatu hari, ketika kedua saudari sepupu Wu itu mendatangi rumahnya untuk membeli benang sutra merah. Bai Long sempat melongo beberapa saat sebelum menyadari kalau Jinlan meminta uang kembaliannya yang kelebihan.

“Pemintal Bai menyukaimu, sepupu!” bisik Lianlian kepada Jinlan ketika Bai Long berbalik. “Entah sudah berapa kali kulihat dia terpaku diam jika memandangmu.”

“Kurasa kau mengada-ada, sepupu. Pemintal Bai memang seperti itu karena jarang bergaul dengan wanita selain ketiga adik perempuannya,” sanggah Jinlan.

“Tapi dia tidak pernah begitu jika melihatku,” balas Lianlian lalu tertawa cekikikan.

Bai Long mendengar percakapan itu. Duh, betapa malunya dia.

Jinlan tak menggubris perkataan terakhir Lianlian. Ketika Bai Long berbalik kembali untuk memberikan uangnya, Jinlan hanya mengucapkan terima kasih dengan sopan lalu berlalu bersama Lianlian. Bai Long menatap punggung gadis itu dengan kecewa. Sepertinya Jinlan memang tidak pernah peduli padanya. Dia bahkan mangabaikan tanda-tanda yang coba dikirim Bai Long padanya.

***
Tahun itu, tepat ketika festival pertengahan bulan pertama berlangsung di Dimen, dua orang pria tampak di jalan tempat perayaan.

Festival pertengahan bulan pertama di Dimen jatuh pada tanggal lima belas. Seluruh penduduk berkumpul bersukacita. Mereka mengadakan karnaval. Para gadis dan pemuda menari serta bernyanyi. Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka-lengkap dengan pernak-perniknya. Beberapa mengenakan kostum dan topeng dewa kepercayaan Dimen untuk karnaval. Puncak karnaval, yang paling ditunggu-tunggu adalah munculnya peri musim semi. Dia gadis cantik yang didandani serupa dewi. Gadis ini lalu diarak. Dari atas tandunya, si gadis akan bernyanyi dan menebarkan kelopak bunga keberuntungan kepada penonton.

Kedua pria yang sedang berjalan itu, dari penampilan mereka, jelaslah bukan penduduk Dimen. Baju mereka berpola suku Han. Rambut mereka terpotong pendek dan mereka tidak mengenakan kain putih penutup kepala seperti semua lelaki di Dimen. Yang berbaju biru, wajahnya sangat tampan dan tampak ceria. Sedangkan satunya yang berbaju coklat tua, sebenarnya tak kalah tampannya. Hanya saja, wajah keruhnya membuatnya terlihat lebih tua dan kurang bersemangat.

Pria berbaju biru menerobos kerumunan orang-orang dan mencari tempat terbaik untuk menonton karnaval. Si baju coklat agak tertinggal di belakang sehingga melayangkan protes.

“Sepupu, jangan berjalan terlalu cepat. Aku tak bisa menyusulmu.”

“Kau harus cepat A Hui! Aku tak mungkin menunggumu terus!” sahut si baju biru. Akhirnya dia menemukan tempat strategis untuk menonton karnaval dan si baju coklat berhasil menyusulnya.

“Aku tak mengerti, mengapa kau begitu antusias melihat festival ini sehingga kita harus tinggal lebih lama di sini? Padahal di Guangzhou, festival Capgomeh serupa ini juga tengah berlangsung dan pasti lebih meriah.”

“Hei, kau tak tahu. Setiap daerah merayakan Capgomeh berbeda-beda. Contohnya di Dimen ini. Mumpung kita sudah berada di sini, mengapa tak sekaligus melihat-lihat?”

Pria berbaju coklat itu melempar pandangan mencemooh kepada rekannya. Beginilah jika menghadapi putra tunggal seorang hartawan yang terbiasa dimanja. Nasihat apapun takkan digubris. Ketika dia sudah membuat keputusan, keputusannyalah yang harus diikuti.

Kedua pria itu, yang berbaju biru bernama Chen Deseng. Sedang yang baju coklat adalah sepupunya, Chen Dehui. Keduanya berasal dari Guangzhou, Guangdong. Keduanya pedagang. Dehui telah beberapa kali ke Dimen. Dia membawa barang-barang kelontong yang tak ada di Dimen-di antaranya buku-buku, untuk dijual. Dehui punya pemasok penduduk lokal. Dan dua bulan sekali, Dehui datang mengecek sekaligus membawa stok barang-barang baru. Untuk kunjungannya kali ini dia tinggal agak lama karena sepupunya, Deseng juga ikut bersamanya.

Deseng adalah putra satu-satunya paman Dehui. Ketiga kakak Deseng adalah perempuan-maka, jadilah Deseng anak yang dimanja sejak kecil. Hampir semua keinginannya mesti dituruti. Contohnya seperti kunjungan ke Dimen ini. Sebetulnya, ibunya melarang Deseng ikut karena dia tak terbiasa melakukan perjalanan jauh ke daerah terpencil. Akan tetapi karena rengekannya tiada henti, akhirnya sang ibu mengijinkan.

Dehui dan Deseng lahir pada tahun yang sama. Hanya saja, Dehui lebih tua beberapa bulan dari Deseng. Tahun ini keduanya dua puluh tahun. Sejak kecil, Dehui terbiasa dengan kehidupan keras sehingga membentuk garis-garis wajahnya yang membuatnya terlihat lebih tua beberapa tahun dari usia sebenarnya. Sebaliknya Deseng, hampir setiap hari dilalui dengan riang gembira. Kesulitan seolah tak pernah menghampirinya. Wajahnya selalu terlihat segar dan yang dipikirkannya hanya kesenangan semata.

Deseng menyadari, dari segi kepandaian, Dehui jelas mengunggulinya. Meski dulunya Dehui hanya bocah nelayan miskin, watak sesungguhnya adalah pekerja keras. Karena kegigihannya, Dehui sanggup melaksanakan tugas yang tak mungkin menjadi mungkin. Banyak orang yang memuji Dehui dan meramalnya akan menjadi pria sukses. Termasuk ayah Deseng sendiri.

Deseng merasa sedikit iri pada Dehui. Lalu disadarinya kenyataan bahwa, meski Dehui berbakat, dia tentunya harus memiliki modal materi untuk bisa memulai bisnis sendiri. Dehui tak memilikinya. Tapi itu dimiliki Deseng. Sebagai putra satu-satunya, cepat atau lambat seluruh harta milik keluarga Chen yang sekarang akan menjadi warisannya. Jadi buat apa dia harus bersusah payah seperti Dehui?

Kembali ke karnaval, kegembiraan Deseng begitu meluap-luap sewaktu melihat baris demi baris pengisi acara melewatinya. Tarian dan nyanyian di Dimen begitu meriah. Para pesertanya berbalut pakaian warna-warni seperti pelangi. Kemudian, muncullah orang-orang yang mengarak tandu.

Diatasnya, peri musim semi berdiri dengan anggun serta tak henti-hentinya tersenyum. Dia memegang keranjang anyaman di tangan kiri. Tangan kanannya meraup kelopak-kelopak bunga dalam keranjang lalu ditebarnya ke kerumunan penonton. Peri musim semi bernyanyi,

Tahun penuh keberuntungan telah datang. Aku menyebar bunga keberuntungan kepada mereka yang penuh cinta kasih.”

Sungguh pemandangan yang amat memukau mata. Chen Deseng seolah terhipnotis. Gadis itu, yang sesungguhnya adalah Wu Lianlian, disangkanya bidadari betulan. Deseng juga terpukau oleh suaranya. Belum pernah dia melihat seseorang yang amat cantik dengan suara begitu merdu. Kalaupun dulu dia mendengar ada wanita semacam itu, semuanya pasti hanya dalam dongeng.

Tapi ini bukan dongeng. Sepupunya, Dehui juga berada di sini. Dia bersama orang-orang lainnya juga melihat sang peri musim semi. Dehui yang biasanya serius bahkan terhenyak. Dia terus memandangi sang bidadari sama seperti Deseng.

Kelopak-kelopak bunga yang wangi mengenai wajah Deseng sewaktu peri musim semi melewatinya. Dengan sigap, Deseng meraup kelopak-kelopak itu dan menyimpannya. Dia begitu terpesona dengan sang peri hingga berjalan mengikuti rombongan arak-arakan. Tapi Deseng tak dapat mengikutinya lebih jauh. Setelah beberapa langkah, kerumunan orang membentenginya. Mereka berebut hendak mengambil kelopak bunga yang dilempar sang peri.

Malam hari di kamarnya, Deseng memandangi kelopak bunga yang tersebar di atas meja.
Dirangkainya kelopak-kelopak itu menjadi bunga-bunga kecil sambil membayangkan sang peri musim semi.

Dehui masuk kamar dan menggeleng menyaksikan keasyikan sepupunya. Dia duduk di sisi ranjang, berdehem sebentar lalu berkata,

“Nah sepupu, pestanya telah usai. Kau harus berkemas karena kita akan pulang ke Guangzhou besok.”

“Aku belum mau pulang,” sahut Deseng tanpa berpaling dari kelopak-kelopak bunganya.

Dehui terpengarah. “Kau bilang apa?”

Deseng mengangkat kepalanya dan memandangi Dehui. Ujarnya kalem, “Kubiang aku belum mau pulang. Aku masih mau tinggal di sini mencari gadis yang menjadi peri musim semi siang tadi. Kalau kau mau kembali, pulanglah duluan. Biar aku sendirian saja di sini.”

“Sepupu, kau jangan bertindak konyol!” suara Dehui meninggi. “Ayahmu akan memancungku jika tak melihatmu kembali bersamaku! Cukup sudah main-mainnya!”

“Kubilang tak mau, ya tak mau!” seru Deseng keras kepala. “Kan sudah kubilang, kalau kau mau pulang, pulang saja duluan!”

Dehui menggertakkan gigi. Kemarin-kemarin dia berhasil meredam segala alasan yang diberikan Deseng. Kini kekesalannya sudah naik hingga ke ubun-ubun. Dengan marah, Dehui mengepalkan tangan dan meninju sisi tempat tidur hingga berdebum. Deseng acuh tak acuh. Dia sama sekali tak merespons, tetap sibuk dengan untaian kelopak bunganya.

Dehui merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kesal. Lao Tian, ingin sekali ia meninggalkan sepupu manja ini. Biar dia tahu rasa yang namanya sendirian di tempat asing. Tapi Dehui tak bisa melakukannya. Dalam kekesalannya, Dehui pun tertidur.

***
Sore sehari setelah festival pertengahan bulan pertama, Jinlan, Lianlian dan Wu Jie berkumpul di sebuah tanah lapang di luar gerbang desa.

Mereka bersama keenam bersaudara Bai. Di tanah lapang itu, keenam saudara Bai tengah menjemur kain-kain yang mereka celup dengan pewarna tiga hari sebelumnya.

Sekitar pukul tiga sore, kain-kain itu telah kering dan mereka menurunkannya dari jemuran. Namun masih terlalu dini untuk pulang. Matahari masih bersinar terang dan pepohonan di sisi tanah lapang itu melambatkan laju angin menjadi sejuk sepoi-sepoi. Lianlian mengusulkan agar mereka bermain sandiwara ‘Kaisar Tang di Istana Bulan’ –sebuah cerita yang pernah didengarnya dari Jinlan.

Yang lainnya setuju. Lianlian berperan sebagai Selir Yang Guifei yang cantik. Sedangkan adiknya, Wu Jie, menjadi Kaisar Tang Minghuang. Ketiga bersaudari Bai menjadi dayang-dayang dan si kembar Bai menjadi prajurit. Bai Hu tak ikut berperan, duduk di bawah pepohonan sambil menyiapkan genderang kecil. Dia akan menabuh genderang itu sebagai musik pengiring sandiwara. Sementara Jinlan, dia tak diijinkan ikut bermain oleh Lainlian. “Kau jadi penonton saja. Dan beri komentar usai melihat sandiwara ini!”

Jinlan tertawa. “Baik, baik. Aku akan menonton saja.”

Lalu mendadak terdengar Bai Long menyelutuk. “Hei, ada hiburan di sini rupanya. Mengapa aku tak diajak?”

Bai Long datang dari arah hutan sambil memanggul keranjang bambu penuh daun murbei. Dia baru kembali dari memetik daun murbei untuk pakan ulat-ulat sutranya.

“Kakak Tertua, kemarilah dan ikut menonton bersamaku dan Kakak Jinlan,” Bai Hu menarik tangan Bai Long supaya duduk. Bai Long melepas keranjangnya dan meletakkannya di satu sisi. Setelah itu dia duduk di samping kanan Bai Hu.

Setelah duduk, Bai Long menyempatkan diri melihat ke arah Jinlan yang duduk di sisi kiri Bai Hu. Jinlan tengah menunduk. Sepertinya hari ini Jinlan mencuci rambutnya. Dia tidak mengenakan topi dan rambutnya dibiarkan tergerai hingga ke punggung. Angin meniup rambutnya sehingga melambai-lambai. Jinlan cantik sekali jika seperti ini. Rambutnya yang tergerai melembutkan kedua tulang pipinya yang tinggi, membuat wajah lonjongnya terlihat semakin panjang.

Jinlan mengenakan celana pendek sebatas lutut yang tepinya penuh sulaman bunga-bunga. Kedua kakinya terlihat jenjang jika direntangkan. Mendadak, Jinlan mengangkat kepalanya. Takut ketahuan kalau dia tengah mengamati gadis itu, Bai Long buru-buru memalingkan wajah. Kalau dia terlambat sedikit saja, Jinlan pasti sudah memergoki wajahnya memerah.

Adegan sandiwara itu awalnya berjalan mulus diiringi tetabuhan gendang Bai Hu. Lianlian memerankan Selir Yang dengan anggun. Begitu pula dengan dayang-dayang dan kedua pengawal kembarnya. Peran Wu Jie pun sebenarnya cukup bagus-meski dia agak pendek dari Lianlian.

Tapi semuanya mulai kacau sewaktu Wu Jie bersin.

“Aih, Wu Jie! Kau bodoh sekali! Mana ada Kaisar bersin ketika berjalan?” maki Lianlian.

“Memangnya kenapa Kaisar tak boleh bersin sewaktu berjalan? Kaisar kan juga manusia!” sanggah Wu Jie. “Lagipula aku bersin karena alergi dengan janggut palsu ini. Sudah kubilang tadi aku tak sudi mengenakan janggut konyol begini-tapi kau tetap memaksa!” Wu Jie melepaskan janggut palsu yang terbuat dari rambut jagung dari wajahnya dan dibuangnya ke tanah.

“Tapi semua Kaisar itu berjanggut!” seru Lianlian kesal sambil memungut janggut palsu itu. “Bukan begitu, Jinlan?” Lianlian melihat ke arah Jinlan meminta persetujuan. Jinlan telah membaca banyak buku. Dia tentu tahu gambaran kaisar-kaisar yang dulu bertahta.

Jinlan tertawa. “Yaah, sebetulnya tak semua Kaisar berjanggut.”

“Nah, kalau begitu aku akan bermain tanpa janggut!” Wu Jie bersorak.

“Tidak bisa! Tanpa janggut kau terlihat seperti Kaisar serampangan!” pekik Lianlian.

Kedua bersaudara itu bertengkar gara-gara janggut, membuat yang lain-lainnya tertawa. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari arah lain. Tawa muda-mudi itu terhenti dan mereka berpaling ke arah suara tawa yang lain itu.

Seorang pemuda Han berusia dua puluhan tengah melihat mereka. Entah sejak kapan dia berdiri di situ. Tapi sepertinya dia mengikuti pertengkaran soal janggut tadi sehingga ikut tertawa. Baju pemuda itu bercorak Han dan tampak bagus. Sepertinya dia pedagang dari Guangzhou.

Dia pemuda paling tampan yang pernah Lianlian lihat. Lianlian menghampirinya. Sambil berkacak pinggang dia berkata kepada pemuda itu,

“Hei, kau mau ikut main sandiwara ‘Kaisar Tang di Istana Bulan’ bersama kami?”

Pemuda itu tersenyum. “Aku mau asal aku yang menjadi Kaisarnya,” sahutnya.

Lianlian memiringkan kepalanya. Mengamati si pemuda dengan seksama. “Baiklah, kau yang jadi Kaisar.”

Wu Jie serta-merta protes. “Dia hendak merampas peranku? Aku tak sudi!” Wu Jie merapat ke Jinlan. “Lihat dia baik-baik. Dari segi mana dia mirip Kaisar?”

Lianlian menghentakkan kaki. “Kau sudah terbukti tak bisa berperan dengan baik. Sedang Pemintal Bai terlalu pemalu untuk menjadi Kaisar.”

Bai Long mengangguk. “Benar. Jangan minta aku bermain sebagai Kaisar.” Lalu dia terkekeh.

“Baik, sudah kuputuskan,” Lianlian berkata. “Orang asing, kau yang menjadi Kaisar. Apakah kau tahu cara berjalan seorang Kaisar?”

Si pemuda Han itu, Chen Deseng, begitu gembira diterima bermain oleh sang peri musim semi. Sedari pagi dia telah mencari dimana sang peri tinggal. Deseng bertanya kesana-kemari. Namun sepertinya orang-orang memelonconya dengan memberikan alamat-alamat salah sehingga dia beberapa kali tersesat.

Deseng sudah sering melihat opera sejak kecil. Kaisar Tang Minhuang dari Dinasti Tang hanya salah satu dari sekian banyak lakon Kaisar dalam opera. Deseng tentu bisa memainkannya. Rata-rata dalam opera, Kaisar digambarkan tegap dan berwibawa. Dia berjalan dengan langkah lebar namun tak tergesa-gesa. Wajahnya menatap lurus ke depan dengan kesan angkuh, bermartabat.

Lianlian terpesona dengan cara Deseng berperan sebagai Kaisar. Sementara Wu Jie memandang dengan jengkel. Ketika tanpa sengaja Deseng terpeleset, Wu Jie langsung terbahak. “Kalau begini, jadi lebih mirip…,” dia bertanya kepada Jinlan, “Apa istilah untuk pria kebiri yang tinggal di istana?”

“Kasim…,” bisik Jinlan pelan.

“Aha!” Wu Jie menunjuk Deseng sambil setengah bernyanyi, “Jadi seorang kasim baru cocok!”

“Wu Jie! Jaga mulutmu!” tegur Lianlian.

Terdengar suara tawa tertahan. Deseng tak terlalu menyadari kalau dia menjadi sasaran olok-olok Wu Jie. Perhatiannya hanya terpusat pada Lianlian. Melihat senyum gadis itu, hal lainnya tak penting lagi.

“Jinlan! Lianlian! Wu Jie!” terdengar seseorang memanggil dari jauh.

Wu Xun berjalan mendekat. Melihat kedatangannya, Jinlan, Lianlian dan Wu Jie langsung bangkit menghampirinya.

“Kalian sebaiknya pulang sekarang. Aku akan mengantar Li Niang pulang ke rumah orang tuanya. Ayahnya sakit. Aku baru kembali lusa. Kalian tak perlu membuka kedai. Jaga rumah baik-baik dan…,” Wu Xun berhenti sambil melirik Deseng. “Jangan biarkan orang asing memasuki rumah…”

Dengan kedatangan Wu Xun, praktis permainan sandiwara ‘Kaisar Tang di Istana Bulan’ terhenti. Ketujuh bersaudara Bai berkemas. Jinlan, Lianlian dan Wu Jie mengikuti Wu Xun pulang.

Deseng ditinggal sendiri. Tapi dia tak terlalu sakit hati. Karena sebelum berlalu, sang peri musim semi masih berbalik dan memberikan senyum termanisnya pada Deseng.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar